Tasawuf: Menyusuri Jalan Sufi di Zaman Digital
Miftah yusufpati
Sabtu, 21 Juni 2025 - 04:15 WIB
Jika umat Islam bisa menyelami kedalaman ajaran ini, barangkali konflik yang selama ini digerakkan oleh nafsu atas nama agama, bisa digantikan dengan cinta. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Ketika purnama menggantung di langit Madinah, sekelompok lelaki kurus berjanggut duduk bersandar di pilar-pilar Masjid Nabawi. Mereka bukan pengemis, meski tak punya apa-apa. Mereka adalah Ahl al-Suffah yakniorang-orang suci yang meninggalkan dunia demi hidup bersama Rasulullah. Mereka inilah, menurut sebagian sejarawan Islam, cikal bakal kaum sufi.
Tapi jalan panjang menuju apa yang hari ini kita kenal sebagai tasawuf tidak berhenti di pelana batu atau dzikir sunyi. Ia berkembang menjadi disiplin keilmuan yang rumit, menyeberang dari ibadah sunyi ke struktur filsafat, bahkan hingga ke medan kontestasi kekuasaan dan paham keagamaan.
Di Indonesia, kata “sufi” kadang diidentikkan dengan kebersahajaan tokoh seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, atau Dzun Nun al-Mishri yang dikenal menciptakan istilah ma’rifat. Namun di ruang-ruang akademik, tasawuf tak hanya dipahami sebagai sikap hidup asketik. Ia adalah sistem moral, laku spiritual, dan—tak jarang—perdebatan teologis dan metafisik.
Prof. Harun Nasution, dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, menyebut lima akar kata yang mungkin melahirkan istilah "sufi", mulai dari safa (suci), suf (wol), hingga sophos (hikmah). Dari pemaknaan itu saja, tampak bahwa tasawuf berada di antara tiga dunia: pembersihan jiwa, keprihatinan sosial, dan pemikiran mendalam.
Baca juga: 3 Tahapan Penyucian Jiwa dalam Tasawuf: Ta’alluq, takhalluq, dan tahaqquq
“Tasawuf adalah mistisisme dalam Islam,” ujar Dr. Rivay Siregar dalam Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme. Di Barat, ia disebut Sufisme dan dipelajari sebagai cabang spiritual Islam yang mengutamakan pengalaman langsung kehadiran Ilahi.
Dalam pemetaan para akademisi, setidaknya ada tiga cabang besar dalam tasawuf: tasawuf akhlaki, tasawuf falsafi, dan tasawuf amali. Tasawuf akhlaki adalah disiplin yang mengutamakan pembersihan jiwa dan penyucian akhlak melalui tiga tahap: takhalli (pengosongan sifat buruk), tahalli(penghiasan diri dengan sifat baik), dan tajalli(penyingkapan nur Ilahi).
Tapi jalan panjang menuju apa yang hari ini kita kenal sebagai tasawuf tidak berhenti di pelana batu atau dzikir sunyi. Ia berkembang menjadi disiplin keilmuan yang rumit, menyeberang dari ibadah sunyi ke struktur filsafat, bahkan hingga ke medan kontestasi kekuasaan dan paham keagamaan.
Di Indonesia, kata “sufi” kadang diidentikkan dengan kebersahajaan tokoh seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, atau Dzun Nun al-Mishri yang dikenal menciptakan istilah ma’rifat. Namun di ruang-ruang akademik, tasawuf tak hanya dipahami sebagai sikap hidup asketik. Ia adalah sistem moral, laku spiritual, dan—tak jarang—perdebatan teologis dan metafisik.
Prof. Harun Nasution, dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, menyebut lima akar kata yang mungkin melahirkan istilah "sufi", mulai dari safa (suci), suf (wol), hingga sophos (hikmah). Dari pemaknaan itu saja, tampak bahwa tasawuf berada di antara tiga dunia: pembersihan jiwa, keprihatinan sosial, dan pemikiran mendalam.
Baca juga: 3 Tahapan Penyucian Jiwa dalam Tasawuf: Ta’alluq, takhalluq, dan tahaqquq
“Tasawuf adalah mistisisme dalam Islam,” ujar Dr. Rivay Siregar dalam Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme. Di Barat, ia disebut Sufisme dan dipelajari sebagai cabang spiritual Islam yang mengutamakan pengalaman langsung kehadiran Ilahi.
Dalam pemetaan para akademisi, setidaknya ada tiga cabang besar dalam tasawuf: tasawuf akhlaki, tasawuf falsafi, dan tasawuf amali. Tasawuf akhlaki adalah disiplin yang mengutamakan pembersihan jiwa dan penyucian akhlak melalui tiga tahap: takhalli (pengosongan sifat buruk), tahalli(penghiasan diri dengan sifat baik), dan tajalli(penyingkapan nur Ilahi).