home masjid

Tasawuf: Di Antara Kekhusyukan dan Kesesatan

Rabu, 23 Juli 2025 - 05:45 WIB
Tasawuf bukan jalan sesat jika tetap berpijak pada Quran dan Sunnah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah zawiyah di kaki Pegunungan Atlas, Maroko, para murid duduk bersila. Wajah mereka tenang, bibir berzikir, sesekali air mata menetes. Di sudut lain dunia, di sebuah forum media sosial, komentar pedas terlontar: “Tasawuf itu bid’ah! Banyak yang tersesat karenanya!”

Tasawuf, yang sering diartikan sebagai jalan spiritual menuju Tuhan, memang menyimpan jalan berliku. Antara yang lurus seperti ditunjukkan para nabi dan sahabat Rasulullah SAW, dan yang menyimpang seperti dilakukan mereka yang terlalu larut dalam ekstase rohaninya.

Menurut Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah (Risalah Gusti), tasawuf pada hakikatnya adalah perhatian penuh terhadap dimensi rohani, ibadah, akhlak, dan kemurnian hati. Dalam kitab itu disebutkan bahwa manusia terdiri dari tiga unsur: roh, akal, dan jasad — dan semuanya butuh haknya masing-masing.

Nabi Muhammad sendiri mengingatkan Abdullah bin Amr bin Ash, yang berpuasa tanpa henti, beribadah semalam suntuk, dan meninggalkan keluarganya. Sabda beliau yang diriwayatkan Qardhawi dalam Fatawa: “Sesungguhnya bagi dirimu ada hak, bagi keluargamu ada hak, bagi jasadmu ada hak. Maka berikanlah hak kepada masing-masing.”

Baca juga: Tasawuf: Menyusuri Jalan Sufi di Zaman Digital

Islam datang membawa keseimbangan antara dunia rohani dan dunia nyata, antara akal dan rasa. Itu pula sebabnya, para sufi yang lurus selalu berjalan di atas timbangan Al-Qur’an dan Sunnah.

Warisan yang Luhur
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya