home masjid

Menantang Kekuasaan: Ketika Ali bin Abi Thalib Menolak Kebijakan Utsman bin Affan

Kamis, 31 Juli 2025 - 16:30 WIB
Iman pada sunnah harus lebih kuat daripada ketundukan pada otoritas siapa pun. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Angin gurun menyapu dataran Asfan, antara Makkah dan Madinah, saat dua sahabat utama Nabi MuhammadSAWberdiri dalam tensi keagamaan yang tidak bisa dibungkam. Di satu sisi, Utsman bin Affan, khalifah ketiga, mengeluarkan pandangan bahwa ibadah haji dan umrah sebaiknya dilakukan secara terpisah, bukan digabung sebagaimana dilakukan oleh Nabi dalam bentuk haji tamattu’. Di sisi lain, Ali bin Abi Thalib, menantu sekaligus sepupu Rasulullah, menolak keras keputusan itu.

"Engkau hanya ingin melarang sesuatu yang dilakukan oleh Rasulullah sendiri," ujar Ali kepada Utsman dalam sebuah momen yang direkam oleh Sa'id ibn al-Musayyab, seorang tabiin terkemuka.

Perselisihan ini bukan sekadar perbedaan fikih. Ia mencerminkan tarik-ulur antara otoritas politik dan otoritas keagamaan di masa Islam awal. Antara mempertahankan kemurnian sunnah dan menyesuaikannya dengan konteks sosial-politik kekinian.

Baca juga: Kisah Ali bin Abi Thalib Menolak Membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah

Dari Sunnah ke Ijtihad

Utsman bin Affan, sebagaimana Umar bin Khattab sebelumnya, melihat praktik *haji tamattu’*—menggabungkan umrah dan haji dalam satu perjalanan—sebagai sesuatu yang bisa membingungkan umat atau dimanfaatkan secara kurang bertanggung jawab. Ia tidak secara terang melarangnya, namun secara aktif menganjurkan pemisahan antara umrah dan haji.

Namun bagi Ali, argumentasi semacam itu tidak cukup untuk meninggalkan jejak Rasulullah. “Aku tidak akan pernah meninggalkan sunnah Nabi karena perkataan seseorang,” katanya kemudian, dengan nada yang dingin tapi tegas.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya