Menyelaraskan Fitrah dan Fikih Prioritas dalam Kehidupan Muslim Modern
Miftah yusufpati
Senin, 04 Agustus 2025 - 16:30 WIB
Dan siapa yang paling dicintai Allah? Bukan mereka yang paling lama rukuknya, tapi yang paling berguna. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Seorang pria muda berdiri di depan sumur kering yang dulu pernah digalinya. Di antara desiran angin gurun, ia berkata lantang, "Ana fathartuhu." Aku yang menciptakan ini pertama kali. Kalimat sederhana itu membuat Ibnu Abbas, sahabat Rasulullah, mengangguk paham. Ia tak lagi bertanya-tanya tentang makna kata fithrah.
Dari akar kata al-fathr—yang berarti membelah—lahirlah pengertian tentang penciptaan: awal mula sesuatu yang wujud. Dan dari sinilah, Prof Dr M Quraish Shihab menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat kata fitrah sebanyak 28 kali, separuhnya berkaitan dengan penciptaan langit dan bumi, dan sebagian sisanya tentang penciptaan manusia. Namun, hanya satu ayat yang secara gamblang menyebut fitrah dalam konteks manusia dan agama: Surah Ar-Rum ayat 30.
Di dalam ayat itu, Allah berfirman bahwa manusia diciptakan atas fitrah—ciptaan Allah yang tak berubah—dan itulah agama yang lurus. Maka, kata Quraish, sejak semula manusia membawa potensi keberagamaan, yaitu tauhid.
Namun, apakah fitrah hanya soal tauhid?
Baca juga: Akhlak sang Fitrah: Tidak Hanya Berkisah tentang Baik dan Buruk
Fitrah Tak Sebatas Tauhid
Tidak. Tafsir para ulama menjelaskan bahwa fitrah juga mencakup jasmani, akal, dan roh. Keinginan manusia terhadap lawan jenis, harta benda, keindahan duniawi adalah bagian dari fitrah. Kemampuan menalar, bersedih, dan merasakan nikmat pun merupakan fitrah. Muhammad Thahir Ibn Asyur menyebut fitrah sebagai sistem dasar penciptaan manusia: menyatu dalam tubuh dan akalnya.
Dari akar kata al-fathr—yang berarti membelah—lahirlah pengertian tentang penciptaan: awal mula sesuatu yang wujud. Dan dari sinilah, Prof Dr M Quraish Shihab menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat kata fitrah sebanyak 28 kali, separuhnya berkaitan dengan penciptaan langit dan bumi, dan sebagian sisanya tentang penciptaan manusia. Namun, hanya satu ayat yang secara gamblang menyebut fitrah dalam konteks manusia dan agama: Surah Ar-Rum ayat 30.
Di dalam ayat itu, Allah berfirman bahwa manusia diciptakan atas fitrah—ciptaan Allah yang tak berubah—dan itulah agama yang lurus. Maka, kata Quraish, sejak semula manusia membawa potensi keberagamaan, yaitu tauhid.
Namun, apakah fitrah hanya soal tauhid?
Baca juga: Akhlak sang Fitrah: Tidak Hanya Berkisah tentang Baik dan Buruk
Fitrah Tak Sebatas Tauhid
Tidak. Tafsir para ulama menjelaskan bahwa fitrah juga mencakup jasmani, akal, dan roh. Keinginan manusia terhadap lawan jenis, harta benda, keindahan duniawi adalah bagian dari fitrah. Kemampuan menalar, bersedih, dan merasakan nikmat pun merupakan fitrah. Muhammad Thahir Ibn Asyur menyebut fitrah sebagai sistem dasar penciptaan manusia: menyatu dalam tubuh dan akalnya.