home masjid

Di Balik Perbedaan: Menyingkap Sebab Ikhtilaf dalam Tradisi Ilmu Islam

Rabu, 06 Agustus 2025 - 16:30 WIB
Siapa pun yang telah berijtihad dan berusaha mencari kebenaran, maka jika dia benar, dia mendapat dua pahala jika salah, satu pahala. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID - Pada satu Jumat siang, seorang khatib naik ke mimbar dengan semangat membara. Di hadapan jamaah, ia menyerukan pentingnya persatuan umat dan bahayanya perpecahan. Namun, beberapa menit kemudian, ia menyindir tajam kelompok yang tidak sependapat dengannya soal qunut subuh. Di bawah kolom masjid, beberapa jamaah saling menatap; sebagian mengangguk, lainnya mengernyit.

Fenomena ini bukan hal baru. Dalam sejarah Islam, perbedaan pendapat di antara para ulama adalah bagian tak terpisahkan dari dinamika intelektual umat. Dari soal rincian fiqih hingga metode penetapan hukum, keragaman pandangan sering kali membuat umat bingung: mengapa para ulama bisa berselisih?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam kitabnya Kitaabul 'Ilmi, membedah secara sistematis sebab-sebab perbedaan di kalangan ulama. Ia tidak menyodorkan jawaban instan, melainkan ajakan merenung: bahwa perbedaan adalah konsekuensi dari keterbatasan manusia dalam memahami wahyu.

Baca juga: Ijma’: Kesepakatan yang Tak Bisa Ditinggalkan, Menyatukan Umat di Tengah Perpecahan

Nash yang Belum Sampai

Salah satu penyebab paling fundamental dari perbedaan adalah perbedaan informasi yang sampai ke masing-masing ulama. Tidak semua hadits atau ayat yang berkaitan dengan satu masalah diketahui secara menyeluruh oleh setiap mujtahid.

Imam Malik, misalnya, lebih mengutamakan amalan penduduk Madinah, sementara Imam Abu Hanifah banyak menggunakan qiyas karena keterbatasan riwayat yang ia terima di Kufah. Menurut Ibn al-Qayyim dalam I’lam al-Muwaqqi’in, “Tidak sampai kepada seseorang sebuah nash bukan berarti dia menolaknya.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya