Ahlus Sunnah: Menghormati Sahabat Nabi, Menjaga Warisan Islam
Miftah yusufpati
Sabtu, 09 Agustus 2025 - 04:15 WIB
Mereka bukan sekadar tokoh-tokoh masa silam, melainkan bagian esensial dari bangunan iman yang diwariskan generasi ke generasi. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Tak ada babak sejarah yang sedekat dan setegas posisi para Sahabat dalam konstruksi aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka bukan sekadar tokoh-tokoh masa silam, melainkan bagian esensial dari bangunan iman yang diwariskan generasi ke generasi. Mencintai mereka, mendoakan mereka, dan menahan lisan dari perselisihan mereka adalah prinsip, bukan pilihan.
Aqidah ini tak tumbuh di ruang hampa. Ia bersandar kokoh pada dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah Azza wa Jalla sendiri menegaskan keridhaan-Nya terhadap para Sahabat yang pertama-tama memeluk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta mereka yang mengikuti jejak mereka dengan ihsan. “Radhiya Allahu ‘anhum wa radhu ‘anhu...” (QS At-Taubah: 100). Ayat ini, dalam pandangan Ahlus Sunnah, adalah pengukuhan spiritual atas posisi para Sahabat dalam Islam.
Di antara ayat yang menjadi rujukan utama adalah QS Al-Hasyr: 10. Ayat ini tidak hanya menegaskan doa untuk para Sahabat, tetapi juga perintah untuk tidak menaruh “ghill” (kedengkian) terhadap mereka. Doa ini menjadi template abadi bagi generasi setelahnya: “Rabbana ighfir lana wa li ikhwanina alladzina sabaquna bil iman...”
Baca juga: Menghindari Taklid Buta, Menjauhi Tafsir Serampangan: Prinsip Ahlus Sunnah
Bukan hanya wahyu, tapi juga sabda Nabi Muhammad SAW yang menjadi fondasi prinsip ini. Dalam hadis yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, lalu generasi setelahnya, lalu generasi setelahnya.” (HR. Bukhari no. 2652, Muslim no. 2533). Hadis ini bukan semata nostalgia historis, tetapi peneguhan hirarki keutamaan dalam Islam.
Maka, ketika Ahlus Sunnah memuliakan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali secara berturut-turut dalam keutamaan, itu bukan hasil spekulasi politik atau nostalgia romantik. Nabi sendiri bersabda: “Ikutilah dua orang setelahku: Abu Bakar dan Umar.” (HR. Tirmidzi no. 3662). Dan ketika ditanya siapa lelaki yang paling dicintai Nabi, beliau menjawab, “Bapaknya Aisyah.” (HR. Bukhari no. 3662; Muslim no. 2384).
Di sinilah letak benteng akidah yang menolak segala bentuk pelecehan terhadap para Sahabat. Dalam karya klasik Al-Imâmah war-Radd ‘ala ar-Râfidhah, Imam Abu Nu’aim menggarisbawahi bahwa menyebarkan kebaikan Sahabat dan menahan lisan dari menyebut kesalahan mereka adalah ciri khas orang-orang yang beriman (hlm. 373). Pernyataan ini menjadi penegasan ilmiah terhadap prinsip dasar Ahlus Sunnah: menahan lisan dan memelihara sikap.
Aqidah ini tak tumbuh di ruang hampa. Ia bersandar kokoh pada dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah Azza wa Jalla sendiri menegaskan keridhaan-Nya terhadap para Sahabat yang pertama-tama memeluk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta mereka yang mengikuti jejak mereka dengan ihsan. “Radhiya Allahu ‘anhum wa radhu ‘anhu...” (QS At-Taubah: 100). Ayat ini, dalam pandangan Ahlus Sunnah, adalah pengukuhan spiritual atas posisi para Sahabat dalam Islam.
Di antara ayat yang menjadi rujukan utama adalah QS Al-Hasyr: 10. Ayat ini tidak hanya menegaskan doa untuk para Sahabat, tetapi juga perintah untuk tidak menaruh “ghill” (kedengkian) terhadap mereka. Doa ini menjadi template abadi bagi generasi setelahnya: “Rabbana ighfir lana wa li ikhwanina alladzina sabaquna bil iman...”
Baca juga: Menghindari Taklid Buta, Menjauhi Tafsir Serampangan: Prinsip Ahlus Sunnah
Bukan hanya wahyu, tapi juga sabda Nabi Muhammad SAW yang menjadi fondasi prinsip ini. Dalam hadis yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, lalu generasi setelahnya, lalu generasi setelahnya.” (HR. Bukhari no. 2652, Muslim no. 2533). Hadis ini bukan semata nostalgia historis, tetapi peneguhan hirarki keutamaan dalam Islam.
Maka, ketika Ahlus Sunnah memuliakan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali secara berturut-turut dalam keutamaan, itu bukan hasil spekulasi politik atau nostalgia romantik. Nabi sendiri bersabda: “Ikutilah dua orang setelahku: Abu Bakar dan Umar.” (HR. Tirmidzi no. 3662). Dan ketika ditanya siapa lelaki yang paling dicintai Nabi, beliau menjawab, “Bapaknya Aisyah.” (HR. Bukhari no. 3662; Muslim no. 2384).
Di sinilah letak benteng akidah yang menolak segala bentuk pelecehan terhadap para Sahabat. Dalam karya klasik Al-Imâmah war-Radd ‘ala ar-Râfidhah, Imam Abu Nu’aim menggarisbawahi bahwa menyebarkan kebaikan Sahabat dan menahan lisan dari menyebut kesalahan mereka adalah ciri khas orang-orang yang beriman (hlm. 373). Pernyataan ini menjadi penegasan ilmiah terhadap prinsip dasar Ahlus Sunnah: menahan lisan dan memelihara sikap.