LANGIT7.ID- Tak ada babak sejarah yang sedekat dan setegas posisi para Sahabat dalam konstruksi aqidah
Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka bukan sekadar tokoh-tokoh masa silam, melainkan bagian esensial dari bangunan iman yang diwariskan generasi ke generasi. Mencintai mereka, mendoakan mereka, dan menahan lisan dari perselisihan mereka adalah prinsip, bukan pilihan.
Aqidah ini tak tumbuh di ruang hampa. Ia bersandar kokoh pada dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah Azza wa Jalla sendiri menegaskan keridhaan-Nya terhadap para Sahabat yang pertama-tama memeluk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta mereka yang mengikuti jejak mereka dengan ihsan. “Radhiya Allahu ‘anhum wa radhu ‘anhu...” (QS At-Taubah: 100). Ayat ini, dalam pandangan Ahlus Sunnah, adalah pengukuhan spiritual atas posisi para Sahabat dalam Islam.
Di antara ayat yang menjadi rujukan utama adalah QS Al-Hasyr: 10. Ayat ini tidak hanya menegaskan doa untuk para Sahabat, tetapi juga perintah untuk tidak menaruh “
ghill” (kedengkian) terhadap mereka. Doa ini menjadi template abadi bagi generasi setelahnya: “
Rabbana ighfir lana wa li ikhwanina alladzina sabaquna bil iman...”
Baca juga: Menghindari Taklid Buta, Menjauhi Tafsir Serampangan: Prinsip Ahlus Sunnah Bukan hanya wahyu, tapi juga sabda
Nabi Muhammad SAW yang menjadi fondasi prinsip ini. Dalam hadis yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, lalu generasi setelahnya, lalu generasi setelahnya.” (HR. Bukhari no. 2652, Muslim no. 2533). Hadis ini bukan semata nostalgia historis, tetapi peneguhan hirarki keutamaan dalam Islam.
Maka, ketika Ahlus Sunnah memuliakan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali secara berturut-turut dalam keutamaan, itu bukan hasil spekulasi politik atau nostalgia romantik. Nabi sendiri bersabda: “Ikutilah dua orang setelahku: Abu Bakar dan Umar.” (HR. Tirmidzi no. 3662). Dan ketika ditanya siapa lelaki yang paling dicintai Nabi, beliau menjawab, “Bapaknya Aisyah.” (HR. Bukhari no. 3662; Muslim no. 2384).
Di sinilah letak benteng akidah yang menolak segala bentuk pelecehan terhadap para Sahabat. Dalam karya klasik Al-Imâmah war-Radd ‘ala ar-Râfidhah, Imam Abu Nu’aim menggarisbawahi bahwa menyebarkan kebaikan Sahabat dan menahan lisan dari menyebut kesalahan mereka adalah ciri khas orang-orang yang beriman (hlm. 373). Pernyataan ini menjadi penegasan ilmiah terhadap prinsip dasar Ahlus Sunnah: menahan lisan dan memelihara sikap.
Ibnu Taimiyyah, dalam
Majmû’ Fatâwâ (III/153), menegaskan bahwa Ahlus Sunnah sepakat tidak mencaci Sahabat, bahkan dalam konflik berdarah seperti Perang Shiffin dan Jamal. Baginya, perselisihan itu tidak menghapus keutamaan dan kedudukan mereka yang telah berijtihad. Mereka tidak maksum, tapi keutamaan mereka, iman mereka, serta pengorbanan mereka untuk Islam telah melampaui kekhilafan mereka.
Baca juga: Perbedaan Sunni dan Syiah: Rukun Islam, Rukun Iman dan Kitab Suci Pendapat ini digaungkan juga oleh Umar bin Abdul Aziz ketika ditanya soal Perang Jamal dan Shiffin: “Itu adalah pertumpahan darah yang Allah telah selamatkan tanganku darinya, maka aku tidak suka melibatkan lisanku dalam urusan itu.” (Al-Khallal, As-Sunnah II/461). Imam Ahmad pun menegaskan: “Aku tidak mengatakan tentang mereka kecuali kebaikan.” (Ibnul Jauzi, Manâqibul Imam Ahmad, hlm. 221).
Sikap ini tak hanya dipegang oleh individu, melainkan menjadi konsensus teologis Ahlus Sunnah. Imam Abul Hasan al-Asy’ari dalam Al-Ibânah (no. 271) menyatakan bahwa semua yang terlibat dalam ijtihad, termasuk Ali dan Muawiyah, adalah imam yang terpercaya. Bahkan Imam al-Barbahari (w. 329 H) memperingatkan: “Apabila disebut para Sahabatku, maka tahanlah lisan kalian.” (Syarhus Sunnah, no. 124).
Konsekuensi dari celaan kepada Sahabat pun tidak ringan. Dalam pandangan Ahlus Sunnah, mencela Sahabat berarti menolak al-Qur’an dan as-Sunnah, karena keduanya ditransmisikan melalui mereka. Maka pernyataan Abu Zur’ah ar-Razi bahwa pencela Sahabat adalah zindiq bukan sekadar tuduhan, tapi bentuk penjagaan atas sumber otoritatif Islam.
Penting dicatat, keutamaan para Sahabat bukan sebatas wacana doktrinal, melainkan bagian dari proyek spiritual Islam. Menurut Ibnu Qudamah dalam Lum’atul I’tiqâd, mencintai para Sahabat, menyebut kebaikan mereka, dan tidak membicarakan perselisihan mereka adalah sunnah (hlm. 150). Bahkan Imam Ahmad dan murid-muridnya menegaskan bahwa menyebut nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman secara tertib adalah praktik yang diwariskan dari para Sahabat sendiri (al-Musnad, II/14).
Baca juga: Karakteristik Fikih Sahabat Nabi Muhammad SAW: Lahirnya Syiah dan Sunni Dalam lanskap kontemporer yang sering mempertajam perbedaan sejarah menjadi batu lemparan ideologis, prinsip ini menjadi penawar. Bukan karena Sahabat tak pernah berselisih, tetapi karena iman lebih memilih husnuzhan dan wara’ dalam sejarah. Menjaga kehormatan mereka adalah menjaga kehormatan agama itu sendiri.
Dan di sinilah posisi Ahlus Sunnah menjadi jelas: mencintai dan memuliakan seluruh Sahabat Nabi tanpa pengecualian, serta menahan lisan dari segala bentuk ghibah historis yang tak mendatangkan faedah akhirat. Karena dalam kesunyian doa dan dalam ketenangan lisanlah keimanan itu menemukan bentuk paling damainya.
(mif)