Fikih Prioritas: Berani Benar di Hadapan Kekuasaan
Miftah yusufpati
Sabtu, 16 Agustus 2025 - 05:45 WIB
Senyum itu, kata Al-Qardhawy, adalah janji yang membuat para penggenggam bara api tak pernah melepaskannyameski tangan mereka melepuh. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Malam di sebuah kota Muslim yang bergolak itu sunyi, tapi penuh kecemasan. Di balik pintu rumah, sebagian orang memilih menunggu badai reda. Namun di sudut-sudut pasar, lorong-lorong kampung, dan majelis kecil yang masih menyala lampunya, ada segelintir yang tetap bekerja: mengajar, menolong, menegakkan kebenaran.
Fenomena itu bukan hal baru. Lebih dari 14 abad lalu, Rasulullah Muhammad SAW sudah mengabarkan betapa masa-masa fitnah akan datang. Dalam satu hadits yang diriwayatkan Ahmad, Muslim, dan Ibn Majah dari Abu Hurairah, beliau bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah.” Kekuatan yang dimaksud bukan sekadar fisik, tapi keteguhan memegang prinsip ketika gelombang ujian memukul.
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, dalam bukunya Fiqh Prioritas (Robbani Press, 1996), menyebut masa-masa fitnah sebagai periode langka yang justru menuntut kerja keras ekstra. “Keperluan untuk melakukan amal saleh pada masa seperti ini lebih ditekankan daripada masa-masa yang lain,” tulisnya. Alasannya sederhana: kerja di masa damai lebih mudah daripada kerja di tengah badai.
Baca juga: Kemerdekaan Bukan Sekadar Lepas dari Penjajah: Pandangan Fikih dan Sejarah Islam
Menyebut Zalim di Depan Penguasa
Sebuah hadits lain yang diriwayatkan Ibn Majah dan Ahmad, yang disebutkan Al-Qardhawi, menegaskan prioritas itu: “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran di depan penguasa yang zalim.”
Bagi umat Islam, pernyataan ini bukan sekadar dorongan moral. Ia adalah ujian nyali. Sebab, sejarah mencatat, banyak yang hilang nyawa karenanya. Nabi bahkan menyebut mereka setara dengan Hamzah bin Abdul Muthallib, “penghulu para syuhada,” termasuk mereka yang terbunuh karena menegur penguasa zalim (Shahih al-Jami’, no. 3676).
Fenomena itu bukan hal baru. Lebih dari 14 abad lalu, Rasulullah Muhammad SAW sudah mengabarkan betapa masa-masa fitnah akan datang. Dalam satu hadits yang diriwayatkan Ahmad, Muslim, dan Ibn Majah dari Abu Hurairah, beliau bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah.” Kekuatan yang dimaksud bukan sekadar fisik, tapi keteguhan memegang prinsip ketika gelombang ujian memukul.
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, dalam bukunya Fiqh Prioritas (Robbani Press, 1996), menyebut masa-masa fitnah sebagai periode langka yang justru menuntut kerja keras ekstra. “Keperluan untuk melakukan amal saleh pada masa seperti ini lebih ditekankan daripada masa-masa yang lain,” tulisnya. Alasannya sederhana: kerja di masa damai lebih mudah daripada kerja di tengah badai.
Baca juga: Kemerdekaan Bukan Sekadar Lepas dari Penjajah: Pandangan Fikih dan Sejarah Islam
Menyebut Zalim di Depan Penguasa
Sebuah hadits lain yang diriwayatkan Ibn Majah dan Ahmad, yang disebutkan Al-Qardhawi, menegaskan prioritas itu: “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran di depan penguasa yang zalim.”
Bagi umat Islam, pernyataan ini bukan sekadar dorongan moral. Ia adalah ujian nyali. Sebab, sejarah mencatat, banyak yang hilang nyawa karenanya. Nabi bahkan menyebut mereka setara dengan Hamzah bin Abdul Muthallib, “penghulu para syuhada,” termasuk mereka yang terbunuh karena menegur penguasa zalim (Shahih al-Jami’, no. 3676).