home masjid

Amal Tanpa Iman, Fondasi Tanpa Bangunan: Menata Ulang Skala Prioritas

Senin, 18 Agustus 2025 - 04:15 WIB
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Foto/Ilustrasi: MEE
LANGIT7.ID- Syaikh Yusuf al-Qardhawi pernah ditanya: mengapa umat Islam kerap terjebak dalam perdebatan soal furu’ (cabang hukum), sementara masalah pokok akidah kerap terabaikan? Pertanyaan sederhana itu menjadi latar lahirnya gagasan “Fiqh Prioritas”, sebuah kerangka metodologis yang menekankan perlunya mendahulukan perkara pokok ketimbang sibuk di belantara cabang.

“Pokok perkara adalah iman. Cabang perkara adalah amal,” tulis Qardhawi dalam Fiqh Prioritas: Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah (Robbani Press, 1996). Baginya, dalam hierarki agama, iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, dan hari akhir menduduki posisi sentral. Ia mengutip al-Baqarah:177: kebaktian sejati bukanlah menghadapkan wajah ke timur atau barat, melainkan beriman kepada Allah dan rukun-rukun iman lainnya.

Kritik Qardhawi terasa relevan dengan situasi hari ini. Dalam praktik keagamaan, umat sering kali lebih sibuk memperdebatkan perkara cabang: posisi tangan saat shalat, tata cara zikir, model jilbab, atau bahkan sekadar intonasi bacaan doa.

Ahmad Najib Burhani, peneliti senior di LIPI, dalam bukunya Pluralisme, Fundamentalisme, dan Demokrasi (LIPI Press, 2009) menyebut fenomena itu sebagai “formalisme keagamaan”—yakni orientasi pada simbol-simbol lahiriah agama yang sering menutupi substansi iman. “Kita sibuk pada simbol, lupa pada esensi iman yang justru menjadi inti,” tulisnya.

Baca juga: Fikih Prioritas: Berani Benar di Hadapan Kekuasaan

Peringatan serupa datang dari M. Quraish Shihab. Dalam Wawasan al-Qur’an (Mizan, 1996), ia menegaskan bahwa iman adalah pondasi utama, sementara amal saleh hanyalah buahnya. “Amal tidak akan bernilai bila tidak didasari oleh iman yang kokoh,” ujarnya.

Qardhawi tidak berjalan sendirian. Ia meneguhkan gagasannya dengan merujuk pada Ibnu al-Qayyim, ulama klasik yang menulis Madarij al-Salikin. Dalam kitab itu, Ibn al-Qayyim menggambarkan kalimat tauhid La ilaha illa Allah sebagai cahaya dengan kadar berbeda pada setiap manusia: ada yang seterang matahari, ada yang redup bagai lampu hampir padam. “Semakin kuat cahaya itu, semakin ia mampu membakar syubhat dan hawa nafsu,” tulisnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya