home masjid

Api Jihad dari Bukit Barisan: Imam Bonjol dan Perang Sabil Minangkabau

Selasa, 02 September 2025 - 04:15 WIB
Kini, di Bonjol, monumen berdiri mengenang Imam Bonjol sebagai Pahlawan Nasional. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Asap mesiu mengepul di kaki Bukit Barisan. Dari balik pepohonan, laskar bersarung merapatkan barisan. Mereka bukan sekadar pejuang adat, melainkan kaum berjubah putih yang membawa panji tauhid. “Laa ilaaha illallah,” teriak mereka, sebelum tombak dan senapan meletup. Inilah Perang Padri (1803–1837), salah satu episode berdarah dalam sejarah Nusantara yang tak bisa dilepaskan dari denyut Islam.

Perang ini bermula bukan karena penjajah, melainkan pertentangan internal antara kaum adat dan ulama. Namun, kolonial Belanda datang menunggangi konflik ini.

Menurut sejarawan Christine Dobbin dalam Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy (1983), akar Perang Padri berasal dari gerakan purifikasi Islam yang dipengaruhi ajaran Wahabi di Makkah. Beberapa haji Minangkabau yang pulang dari tanah suci membawa ide tajdid: kembali kepada ajaran murni, menentang bid’ah, khurafat, dan praktik adat yang dianggap bertentangan dengan syariat.

Baca juga: Ketika Jihad Menyala: Diponegoro dan Perang Suci yang Terlupakan

Kaum ulama yang kemudian disebut Padri mengusung ide ini. Mereka mendirikan basis di pedalaman, menolak adat yang membolehkan judi, sabung ayam, minum tuak, bahkan sistem pewarisan matrilineal. Sebaliknya, kaum adat menganggap ulama terlalu kaku dan mengancam tatanan budaya. “Pertentangan ini adalah konflik ideologis, bukan sekadar perebutan kekuasaan,” tulis Mestika Zed dalam Perang Padri di Sumatera Barat (2003).

Jihad di Ranah Minang

Bagi kaum Padri, perang ini adalah jihad. Ahmad Chatib Al-Khalidi dalam manuskripnya menyebut pertempuran melawan adat yang bertentangan dengan Islam dan kekuasaan kafir sebagai sabilillah. Sebagaimana dicatat oleh Taufik Abdullah dalam Schools and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra (1971), semangat jihad inilah yang menggerakkan perlawanan, meskipun kemudian Belanda memanfaatkan kaum adat untuk mematahkan kekuatan Padri.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya