Hawa Nafsu: Raja Tanpa Mahkota yang Menjerat Manusia
Miftah yusufpati
Ahad, 07 September 2025 - 05:15 WIB
Dari riya hingga sombong, hawa nafsu menipu manusia dengan wajah ketaatan. Al-Quran mengingatkan: yang tunduk padanya berjalan menuju kehancuran. (Ilustrasi: AI)
LANGIT7.ID- Dalam jagat tafsir Islam, hawa nafsu kerap diibaratkan api yang terus menyala dalam jiwa manusia. Ia tidak tampak seperti pedang atau peluru, tetapi daya rusaknya lebih dahsyat. “Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah,” begitu peringatan tegas Allah kepada Nabi Dawud, sebagaimana tertulis dalam Surat Shad ayat 26.
Peringatan itu tidak berhenti di sana. Nabi Muhammad, utusan terakhir, juga menerima perintah serupa: “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya...” (al-Kahfi: 28). Dalam bahasa Syaikh Yusuf al-Qardhawi, hawa nafsu adalah “raja tanpa mahkota” yang siap menundukkan manusia kapan saja. (Fiqh Prioritas, Robbani Press, 1996).
Al-Qur’an mengisyaratkan, siapa pun yang mengangkat hawa nafsu sebagai penentu arah hidup akan menjadi buta dan tuli. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (al-Jatsiyah: 23). Ibn Abbas, sahabat Nabi, bahkan menyebut hawa nafsu sebagai “tuhan manusia yang paling jelek di bumi.”
Mengapa? Karena ia tidak sekadar memalingkan manusia dari kebenaran, tapi menutup seluruh pintu kesadaran. Di sinilah, kata al-Qardhawi, bahaya terbesar mengintai: orang yang dikuasai nafsu akan merasa benar meski salah, mulia meski hina.
Baca juga: Ketika Nafsu Diatur Syariat: Di Balik Ranjang Rumah Tangga Muslim
Ketika Jumlah Jadi Kebanggaan
Tak hanya hawa nafsu, Nabi juga mengingatkan tiga racun mematikan: takjub terhadap diri sendiri, riya’, dan cinta dunia. Sejarah mencatat, kaum Muslimin pernah jatuh karena kesombongan. Perang Hunain menjadi pelajaran pahit. “Kamu congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun,” tulis Al-Qur’an dalam Surat at-Taubah ayat 25-26.
Peringatan itu tidak berhenti di sana. Nabi Muhammad, utusan terakhir, juga menerima perintah serupa: “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya...” (al-Kahfi: 28). Dalam bahasa Syaikh Yusuf al-Qardhawi, hawa nafsu adalah “raja tanpa mahkota” yang siap menundukkan manusia kapan saja. (Fiqh Prioritas, Robbani Press, 1996).
Al-Qur’an mengisyaratkan, siapa pun yang mengangkat hawa nafsu sebagai penentu arah hidup akan menjadi buta dan tuli. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (al-Jatsiyah: 23). Ibn Abbas, sahabat Nabi, bahkan menyebut hawa nafsu sebagai “tuhan manusia yang paling jelek di bumi.”
Mengapa? Karena ia tidak sekadar memalingkan manusia dari kebenaran, tapi menutup seluruh pintu kesadaran. Di sinilah, kata al-Qardhawi, bahaya terbesar mengintai: orang yang dikuasai nafsu akan merasa benar meski salah, mulia meski hina.
Baca juga: Ketika Nafsu Diatur Syariat: Di Balik Ranjang Rumah Tangga Muslim
Ketika Jumlah Jadi Kebanggaan
Tak hanya hawa nafsu, Nabi juga mengingatkan tiga racun mematikan: takjub terhadap diri sendiri, riya’, dan cinta dunia. Sejarah mencatat, kaum Muslimin pernah jatuh karena kesombongan. Perang Hunain menjadi pelajaran pahit. “Kamu congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun,” tulis Al-Qur’an dalam Surat at-Taubah ayat 25-26.