Tak Hanya Reaktif, Wamenag Minta PTKI Lebih Responsif
Ahmad zuhdi
Rabu, 06 Oktober 2021 - 01:15 WIB
Ilustrasi wisuda sarjana. Foto: Langit7.id/iStock
Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi menggarisbawahi pentingnya peran Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dalam merespon persoalan sosial keagamaan. Untuk itu, Wamenag minta PTKI tidak hanya reaktif, tapi lebih responsif dan berkontribusi dalam merumuskan berbagai solusi atas persoalan bangsa.
“Persoalan bangsa, khususnya di bidang sosial keagamaan, membutuhkan respon dari kita yang tidak bersifat reaktif belaka, melainkan harus berdasar pada pertimbangan empirik hasil riset,” kata Zainut dalam keterangannya saat membuka International Conference on Islamic Studies (ICIS) secara virtual, Senin (4/10/2021).
Baca Juga:Majelis Ulama Indonesia: Hukum Ibadah Bersifat Taabbudi
Civitas akademika PTKI,kata dia, tidak boleh menjadi menara gading yang terlalu asyik masyuk dengan penelitian atau diskusi yang hanya bermanfaat buat pribadi atau kampus sendiri saja. "Tanpa memberi kontribusi bagi penyelesaian masalah-masalah sosial, politik, keagamaan, dan kebangsaan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia secara keseluruhan,” katanya.
Dia juga berharap peserta konferensi dapat memberikan kontribusi yang bisa diberikan untuk perdamaian dunia. Menurutnya, era keterbukaan global telah melahirkan sejumlah tantangan di kalangan masyarakat muslim, baik Indonesia maupun Asia Tenggara.
Tantangan itu antara lain menguatnya politik identitas, menularnya gagasan populisme dari belahan bumi lain, bergesernya kecenderungan keagamaan menjadi lebih konservatif, ditambah dengan kepentingan politik yang menunggangi. “Ini adalah beberapa contoh dinamika masyarakat yang dalam level tertentu telah mengakibatkan terciptanya segregasi sosial,” katanya.
Baca Juga:Rebo Wekasan, Tradisi Masyarakat Jawa Memasuki Bulan Maulid
“Persoalan bangsa, khususnya di bidang sosial keagamaan, membutuhkan respon dari kita yang tidak bersifat reaktif belaka, melainkan harus berdasar pada pertimbangan empirik hasil riset,” kata Zainut dalam keterangannya saat membuka International Conference on Islamic Studies (ICIS) secara virtual, Senin (4/10/2021).
Baca Juga:Majelis Ulama Indonesia: Hukum Ibadah Bersifat Taabbudi
Civitas akademika PTKI,kata dia, tidak boleh menjadi menara gading yang terlalu asyik masyuk dengan penelitian atau diskusi yang hanya bermanfaat buat pribadi atau kampus sendiri saja. "Tanpa memberi kontribusi bagi penyelesaian masalah-masalah sosial, politik, keagamaan, dan kebangsaan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia secara keseluruhan,” katanya.
Dia juga berharap peserta konferensi dapat memberikan kontribusi yang bisa diberikan untuk perdamaian dunia. Menurutnya, era keterbukaan global telah melahirkan sejumlah tantangan di kalangan masyarakat muslim, baik Indonesia maupun Asia Tenggara.
Tantangan itu antara lain menguatnya politik identitas, menularnya gagasan populisme dari belahan bumi lain, bergesernya kecenderungan keagamaan menjadi lebih konservatif, ditambah dengan kepentingan politik yang menunggangi. “Ini adalah beberapa contoh dinamika masyarakat yang dalam level tertentu telah mengakibatkan terciptanya segregasi sosial,” katanya.
Baca Juga:Rebo Wekasan, Tradisi Masyarakat Jawa Memasuki Bulan Maulid