MUI Sebut Aksi Teror di SMAN 72 Sinyal Serius pada Masalah Kejiwaan dan Sosial
Esti setiyowati
Sabtu, 08 November 2025 - 16:22 WIB
MUI Sebut Aksi Teror di SMAN 72 Sinyal Serius pada Masalah Kejiwaan dan Sosial. Foto: MUI Digital.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut insiden ledakan yang terjadi di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara menjadi alarm keras bahwa potensi aksi teror telah mengalami perubahan bentuk atau bermetamorfosa.
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) MUI, KH Arif Fahrudin, mengatakan, metamorfosa aksi teror melibatkan faktor-faktor seperti gangguan kesehatan mental (mental illness), dendam sosial (revenge), maupun luka batin akibat perundungan (bullying).
Baca juga:Ledakan di Masjid SMAN 72, Kapolri: Jumlah Korban Capai 96 Orang
“Aksi ini menunjukkan adanya problem serius dari aspek kejiwaan dan sosial yang harus segera diantisipasi bersama,” kata Kiai Arif Fahrudin dalam keterangannya, Sabtu (8/11/2025).
Karena itu, lanjut Kiai Arif, MUI mendesak pemerintah dan pihak terkait untuk mengambil langkah cepat dan prioritas dalam penanganan kesehatan fisik maupun psikis para korban, termasuk pemulihan trauma secara menyeluruh.
Di sisi lain, MUI menegaskan pentingnya komitmen bersama dalam memerangi praktik perundungan (bullying) di lingkungan sekolah maupun keluarga.
“Pola pengasuhan dan pendidikan harus mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman yang rahmatan lil ‘alamin. Anak-anak berhak tumbuh dalam suasana yang aman, ramah, dan terbebas dari kekerasan,” kata dia.
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) MUI, KH Arif Fahrudin, mengatakan, metamorfosa aksi teror melibatkan faktor-faktor seperti gangguan kesehatan mental (mental illness), dendam sosial (revenge), maupun luka batin akibat perundungan (bullying).
Baca juga:Ledakan di Masjid SMAN 72, Kapolri: Jumlah Korban Capai 96 Orang
“Aksi ini menunjukkan adanya problem serius dari aspek kejiwaan dan sosial yang harus segera diantisipasi bersama,” kata Kiai Arif Fahrudin dalam keterangannya, Sabtu (8/11/2025).
Karena itu, lanjut Kiai Arif, MUI mendesak pemerintah dan pihak terkait untuk mengambil langkah cepat dan prioritas dalam penanganan kesehatan fisik maupun psikis para korban, termasuk pemulihan trauma secara menyeluruh.
Di sisi lain, MUI menegaskan pentingnya komitmen bersama dalam memerangi praktik perundungan (bullying) di lingkungan sekolah maupun keluarga.
“Pola pengasuhan dan pendidikan harus mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman yang rahmatan lil ‘alamin. Anak-anak berhak tumbuh dalam suasana yang aman, ramah, dan terbebas dari kekerasan,” kata dia.