UGM Bangun 550 Unit Huntara dari Kayu Hanyut Bagi Penyintas Bencana di Aceh
Lusi mahgriefie
Jum'at, 16 Januari 2026 - 14:35 WIB
Foto: dok. Rumah Zakat
Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan inisiatif lanjutan dengan menyiapkan hingga 550 unit hunian sementara(huntara) berbasis pemanfaatan kayu hanyut. Program ini menyusul dari pengalaman awal membangun 100 unit huntara bagi penyintas bencana di Aceh.
Pembangunan huntara ini terus diperluas seiring kebutuhan mendesak masyarakat untuk keluar dari tenda darurat. Pendekatan pemanfaatan material lokal dipilih agar pembangunan dapat dilakukan lebih cepat dan sesuai kondisi lapangan.
Inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan UGM dalam mendukung pemulihan hunian yang layak, sehat, dan aman bagi keluarga penyintas.
Salah satu Tim UGM, Ashar Saputra mengungkapkan kebutuhan pembangunan 550 huntara berangkat dari kondisi riil kerusakan permukiman warga di Aceh. Di Desa Geudumbak saja, tercatat sekira 430 rumah mengalami rusak berat hingga hancur akibat banjir.
Baca juga: Pemerintah Salurkan Dana Tunggu Hunian Bagi Warga Terdampak Bencana di Pidie Jaya, Rp600 Ribu Per Bulan
Dari jumlah tersebut, 330 unit hunian sementara direncanakan dibangun dengan dukungan penyediaan dan pengolahan kayu oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sementara itu, 120 unit lainnya direncanakan untuk wilayah Aceh Tamiang dengan dukungan BNPB dan Kementerian Kehutanan.
"Inisiatif ini bertujuan memindahkan penyintas dari tenda yang kurang layak ke rumah yang sehat, aman, dan dapat menjalankan fungsi sebagai rumah keluarga," ujar Ashar, mengutip dari laman resmi UGM, Jumat (16/1/2026).
Pembangunan huntara ini terus diperluas seiring kebutuhan mendesak masyarakat untuk keluar dari tenda darurat. Pendekatan pemanfaatan material lokal dipilih agar pembangunan dapat dilakukan lebih cepat dan sesuai kondisi lapangan.
Inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan UGM dalam mendukung pemulihan hunian yang layak, sehat, dan aman bagi keluarga penyintas.
Salah satu Tim UGM, Ashar Saputra mengungkapkan kebutuhan pembangunan 550 huntara berangkat dari kondisi riil kerusakan permukiman warga di Aceh. Di Desa Geudumbak saja, tercatat sekira 430 rumah mengalami rusak berat hingga hancur akibat banjir.
Baca juga: Pemerintah Salurkan Dana Tunggu Hunian Bagi Warga Terdampak Bencana di Pidie Jaya, Rp600 Ribu Per Bulan
Dari jumlah tersebut, 330 unit hunian sementara direncanakan dibangun dengan dukungan penyediaan dan pengolahan kayu oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sementara itu, 120 unit lainnya direncanakan untuk wilayah Aceh Tamiang dengan dukungan BNPB dan Kementerian Kehutanan.
"Inisiatif ini bertujuan memindahkan penyintas dari tenda yang kurang layak ke rumah yang sehat, aman, dan dapat menjalankan fungsi sebagai rumah keluarga," ujar Ashar, mengutip dari laman resmi UGM, Jumat (16/1/2026).