home masjid

Ramadhan Bercahaya

Menjemput Ridha Melalui Ekonomi Inklusif dan Mobilitas Sosial

Ahad, 22 Februari 2026 - 06:00 WIB
Menjemput Ridha Melalui Ekonomi Inklusif dan Mobilitas Sosial. Foto: tangkapan layar.
Dalam upaya pembangunan manusia Indonesia, istilah "ekonomi inklusif" sering kali terdengar sebagai jargon teknis. Namun, menurut Wakil Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia (BSI), Adiwarman Karim, konsep tersebut diterjemahkan sebagai sebuah laku spiritual yang mendalam.

Dalam tausyiahnya dalam Ramadhan Public Lecture di Masjid Kampus UGM, Adiwarman menegaskan bahwa ekonomi inklusif sejatinya berpijak pada tiga pilar utama, yakni pertumbuhan ekonomi, pemerataan, serta akses dan kesempatan yang sama bagi setiap individu.

Baca juga: Membangun Pendidikan Karakter, Meneladani Akhlakul Karimah untuk Masa Depan Indonesia

"Ekonomi inklusif itu punya tiga pilar, yaitu pertumbuhan ekonomi, pemerataan ekonomi, dan akses dan kesempatan yang sama semua orang," kata Adiwarman Karim dala rangkaian acara "Ramadhan Di Kampus UGM" di Yogyakarya, Sabtu (21/2/2026).

Adiwarman mengatakan, esensi dari ekonomi inklusif adalah terciptanya mobilitas sosial, sebuah kondisi di mana mereka yang kurang mampu dapat memperbaiki taraf hidupnya.

Namun, kata Adiwarman, mobilitas ini tidak datang cuma-cuma. Ia membutuhkan ikhtiar untuk mengubah nasib. Menariknya, ia menekankan bahwa motivasi bekerja bukan semata-mata untuk menumpuk harta.

"Kita bekerja bukan untuk menjadi kaya raya, tapi untuk menggugurkan dosa dan menjemput berkah," ujarnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya