Hampir 800 Kapal Masih Terjebak, Apakah Gencatan Senjata Bisa Benar-benar Membuka Selat Hormuz?
Lusi mahgriefie
Kamis, 09 April 2026 - 07:30 WIB
Selat Hormuz. Sumber: ist
Selat Hormuz telah menjadi titik fokus perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran, setelah Teheran secara efektif memutus salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia itu.
Diketahui, selat tersebut biasa dilalui oleh kapal-kapal yang membawa sekira seperlima minyak dan gas alam cair dunia.
Namun sejak perang mencuat, kapal-kapal di Teluk telah menerima peringatan dari angkatan laut Iran bahwa kapal apa pun yang berusaha melintasi Selat Hormuz tanpa izin "akan menjadi sasaran dan dihancurkan," demikian konfirmasi perusahaan perantara pelayaran SSY kepada BBC Verify, dilansir Kamis (9/4/2026).
Jelas hal ini berdampak besar pada perekonomian dunia, mendorong kenaikan harga energi dan mengungkap betapa bergantungnya rantai pasokan internasional pada selat tersebut, yang lebarnya hanya sekitar 33 km (21 mil) pada titik tersempitnya.
Sebab selain energi, Teluk juga sangat penting untuk mengangkut bahan kimia yang dibutuhkan untuk memproses produk seperti mikrochip, obat-obatan, dan pupuk.
Pada Selasa (7/4) malam waktu setempat, keputusan akan adanya gencatan senjata antara Amerika dan Iran diumumkan. Tak berapa lama dari keputusan tersebut diberitakan, harga minyak dikabarkan telah turun. Namun begitu, analis perkapalan memperingatkan untuk memperkirakan hanya akan ada sedikit penyeberangan untuk saat ini.
"Sebagian besar perusahaan pelayaran ingin mendapatkan detail dan jaminan tentang apa yang sebenarnya diperlukan untuk melakukan transit, dan detail tersebut belum tersedia," kata Lars Jensen dari Vespucci Maritime kepada BBC.
Diketahui, selat tersebut biasa dilalui oleh kapal-kapal yang membawa sekira seperlima minyak dan gas alam cair dunia.
Namun sejak perang mencuat, kapal-kapal di Teluk telah menerima peringatan dari angkatan laut Iran bahwa kapal apa pun yang berusaha melintasi Selat Hormuz tanpa izin "akan menjadi sasaran dan dihancurkan," demikian konfirmasi perusahaan perantara pelayaran SSY kepada BBC Verify, dilansir Kamis (9/4/2026).
Jelas hal ini berdampak besar pada perekonomian dunia, mendorong kenaikan harga energi dan mengungkap betapa bergantungnya rantai pasokan internasional pada selat tersebut, yang lebarnya hanya sekitar 33 km (21 mil) pada titik tersempitnya.
Sebab selain energi, Teluk juga sangat penting untuk mengangkut bahan kimia yang dibutuhkan untuk memproses produk seperti mikrochip, obat-obatan, dan pupuk.
Pada Selasa (7/4) malam waktu setempat, keputusan akan adanya gencatan senjata antara Amerika dan Iran diumumkan. Tak berapa lama dari keputusan tersebut diberitakan, harga minyak dikabarkan telah turun. Namun begitu, analis perkapalan memperingatkan untuk memperkirakan hanya akan ada sedikit penyeberangan untuk saat ini.
"Sebagian besar perusahaan pelayaran ingin mendapatkan detail dan jaminan tentang apa yang sebenarnya diperlukan untuk melakukan transit, dan detail tersebut belum tersedia," kata Lars Jensen dari Vespucci Maritime kepada BBC.