LANGIT7.ID-, Teheran -
Selat Hormuz telah menjadi titik fokus perang
Amerika Serikat-Israel dengan
Iran, setelah Teheran secara efektif memutus salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia itu.
Diketahui, selat tersebut biasa dilalui oleh kapal-kapal yang membawa sekira seperlima minyak dan gas alam cair dunia.
Namun sejak perang mencuat, kapal-kapal di Teluk telah menerima peringatan dari angkatan laut Iran bahwa kapal apa pun yang berusaha melintasi Selat Hormuz tanpa izin "akan menjadi sasaran dan dihancurkan," demikian konfirmasi perusahaan perantara pelayaran SSY kepada BBC Verify, dilansir Kamis (9/4/2026).
Jelas hal ini berdampak besar pada perekonomian dunia, mendorong kenaikan harga energi dan mengungkap betapa bergantungnya rantai pasokan internasional pada selat tersebut, yang lebarnya hanya sekitar 33 km (21 mil) pada titik tersempitnya.
Sebab selain energi, Teluk juga sangat penting untuk mengangkut bahan kimia yang dibutuhkan untuk memproses produk seperti mikrochip, obat-obatan, dan pupuk.
Pada Selasa (7/4) malam waktu setempat, keputusan akan adanya
gencatan senjata antara Amerika dan Iran diumumkan. Tak berapa lama dari keputusan tersebut diberitakan, harga minyak dikabarkan telah turun. Namun begitu, analis perkapalan memperingatkan untuk memperkirakan hanya akan ada sedikit penyeberangan untuk saat ini.
"Sebagian besar perusahaan pelayaran ingin mendapatkan detail dan jaminan tentang apa yang sebenarnya diperlukan untuk melakukan transit, dan detail tersebut belum tersedia," kata Lars Jensen dari Vespucci Maritime kepada BBC.
Baca juga: Iran Setuju Gencatan Senjata 2 Pekan, Sekaligus Klaim Kemenangan Atas AmerikaSebagai contoh, pada 8 April, hanya tiga kapal pengangkut curah yaitu NJ Earth, Daytona Beach, dan Hai Long 1 yang telah melewati selat tersebut sejak
gencatan senjata diumumkan. Hal ini berdasarkan analisis BBC Verify terhadap data pelacakan kapal dari MarineTraffic.
Angka tersebut begitu kecil jika dibandingkan dengan rata-rata 138 kapal yang melewati selat setiap hari, sebelum konflik dimulai pada 28 Februari.
Belum dapat dipastikan apakah ketiga kapal yang melintas pada hari Rabu tersebut merupakan hasil dari gencatan senjata, atau apakah mereka memang sudah merencanakan perjalanan tersebut.
"Masih terlalu dini untuk mengatakan apakah ini mencerminkan pembukaan kembali yang lebih luas yang didorong oleh gencatan senjata atau pengecualian yang telah disetujui sebelumnya," kata Ana Subasic dari perusahaan analis perkapalan Kpler.
"Belum ada yang benar-benar berubah," tambah Jensen, dengan alasan bahwa akan membutuhkan waktu sebelum awak kapal cukup percaya diri untuk menyeberang dengan aman.
Baca juga: Australia Sambut Baik Gencatan Senjata Iran-Amerika Selama 2 MingguPandangan itu juga diutarakan oleh Richard Meade, pemimpin redaksi Lloyd's List, yang mengatakan bahwa ini adalah masa yang "sangat berbahaya" bagi pemilik kapal yang masih menghadapi banyak ketidakpastian.
"Kita tahu bahwa Iran pada dasarnya masih mengendalikan selat tersebut, dan asumsinya adalah pemilik kapal masih perlu meminta izin dari IRGC (Korps Garda Revolusi Islam), dan bagaimana hal itu akan berjalan masih belum jelas."
Hampir 800 Kapal Masih TerjebakJika penyeberangan dilanjutkan, Meade memperkirakan bahwa kapal tanker yang terdampar dan bermuatan penuh akan menjadi yang pertama berhasil melewatinya.
Ada hampir 800 kapal terjebak di sana selama beberapa minggu. Sebagian besar sekarang bermuatan penuh, jadi prioritasnya adalah mengeluarkan mereka.
Terkait dengan durasi gencatan senjata yaitu dua minggu juga menimbulkan ketidakpastian bagi kapal, kata Niels Rasmussen, seorang analis perkapalan dari BIMCO.
"Saya ragu akan ada banyak kapal yang masuk ke Teluk, karena mereka tidak ingin mengambil risiko terjebak setelah waktu dua minggu (gencatan senjata) berakhir."
Melintasi Selat Hormuz Wajib BayarSelain persoalan waktu yang hanya dua minggu, kapal-kapal juga menghadapi ketidakpastian kemungkinan harus melakukan pembayaran kepada Iran untuk mengamankan jalur pelayaran yang aman.
Seperti diberitakan sebelumnya bahwa Iran dan Oman dizinkan untuk mengenakan tarif terhadap kapal-kapal yang akan melintasi Selat Hormuz, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
"Posisi negosiasi Iran tampaknya adalah Anda perlu membayar tol untuk melewati selat dan perusahaan pelayaran juga akan ragu-ragu untuk menempuh jalan membayar tol tersebut," kata Jensen.
Baca juga: Iran dan Oman Diizinkan Pungut Biaya Bagi Tiap Kapal yang Melintasi Selat HormuzBeberapa negara termasuk India, Malaysia, dan Filipina telah menegosiasikan jalur pelayaran yang aman untuk kapal-kapal mereka dalam beberapa minggu terakhir.
Namun, membayar tol dapat menimbulkan kerumitan tambahan bagi negara lain dan perusahaan pelayaran karena pembayaran tersebut mungkin sebenarnya melanggar beberapa sanksi AS terhadap Iran, yang bakal memiliki dampak lain pada perusahaan pelayaran. (*/lsi/bbc)
(lsi)