Tafsir Al-Baqarah Ayat 5: Jaminan Petunjuk dan Keberuntungan Hakiki
Ahmad zuhdi
Ahad, 26 Juli 2026 - 09:15 WIB
Tafsir Al-Baqarah Ayat 5: Jaminan Petunjuk dan Keberuntungan Hakiki
Padarangkaian ayat awal Surat Al-Baqarah, Allah SWT tidak hanya memaparkan kriteria manusia yang bertakwa, tetapi juga memberikan penutup yang penuh dengan kabar gembira. Ayat kelima dari surat ini hadir sebagai kesimpulan mutlak atas sifat-sifat mulia yang telah dijelaskan pada ayat sebelumnya, mulai dari beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, menafkahkan rezeki, meyakini wahyu Allah, hingga memegang teguh keyakinan akan hari akhirat.
Sebagai bentuk natījah atau penarikan kesimpulan Ilahi, ayat ini memberikan dua jaminan besar bagi siapapun yang memenuhi kriteria tersebut, yaitu pijakan petunjuk yang sangat kokoh dan piala keberuntungan yang hakiki. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān menjelaskan bahwa seluruh rangkaian amal dan iktikad yang disebutkan sebelumnya merupakan bukti autentik bahwa seorang hamba benar-benar sedang berdiri tegak di atas jalan petunjuk Allah.
Penggalan awal ayat ini menggunakan redaksi ulā'ika 'alā hudan mir-rabbihim. Penggunaan kata ulā'ika yang berarti mereka itu merupakan kata tunjuk jarak jauh dalam kaidah bahasa Arab. Pemilihan kata ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah bentuk penegasan atas tingginya kedudukan, kemuliaan, dan derajat orang-orang yang bertakwa di sisi Allah SWT.
Baca Juga:Mengurai Hakikat Mukmin, Muslim, Mujahid, dan Muhajir dalam Khutbah Wada
Mengenai makna hudan dalam konteks ini, Imam at-Thabari dalam kitab Jāmi' al-Bayān mengutipkan pandangan sahabat Ibnu 'Abbās RA. Beliau menjelaskan bahwa berada di atas petunjuk bermakna berada di bawah naungan cahaya Ilahi, memiliki bukti yang amat nyata, serta diberikan kelurusan dan ketetapan sikap dalam menjalani kehidupan berdasar pertolongan dan taufik dari Allah SWT.
At-Thabari menambahkan bahwa kata hudan di sini bertindak sebagai petunjuk yang meluruskan jalan hidup seseorang. Petunjuk yang terkandung dalam Al-Qur'an ini bertindak sebagai obat penawar bagi segala keraguan dan penyakit yang berada di dalam dada orang-orang yang beriman.
Rahasia Penggunaan Kata di Atas Petunjuk
Sebagai bentuk natījah atau penarikan kesimpulan Ilahi, ayat ini memberikan dua jaminan besar bagi siapapun yang memenuhi kriteria tersebut, yaitu pijakan petunjuk yang sangat kokoh dan piala keberuntungan yang hakiki. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān menjelaskan bahwa seluruh rangkaian amal dan iktikad yang disebutkan sebelumnya merupakan bukti autentik bahwa seorang hamba benar-benar sedang berdiri tegak di atas jalan petunjuk Allah.
Penggalan awal ayat ini menggunakan redaksi ulā'ika 'alā hudan mir-rabbihim. Penggunaan kata ulā'ika yang berarti mereka itu merupakan kata tunjuk jarak jauh dalam kaidah bahasa Arab. Pemilihan kata ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah bentuk penegasan atas tingginya kedudukan, kemuliaan, dan derajat orang-orang yang bertakwa di sisi Allah SWT.
Baca Juga:Mengurai Hakikat Mukmin, Muslim, Mujahid, dan Muhajir dalam Khutbah Wada
Mengenai makna hudan dalam konteks ini, Imam at-Thabari dalam kitab Jāmi' al-Bayān mengutipkan pandangan sahabat Ibnu 'Abbās RA. Beliau menjelaskan bahwa berada di atas petunjuk bermakna berada di bawah naungan cahaya Ilahi, memiliki bukti yang amat nyata, serta diberikan kelurusan dan ketetapan sikap dalam menjalani kehidupan berdasar pertolongan dan taufik dari Allah SWT.
At-Thabari menambahkan bahwa kata hudan di sini bertindak sebagai petunjuk yang meluruskan jalan hidup seseorang. Petunjuk yang terkandung dalam Al-Qur'an ini bertindak sebagai obat penawar bagi segala keraguan dan penyakit yang berada di dalam dada orang-orang yang beriman.
Rahasia Penggunaan Kata di Atas Petunjuk