LANGIT7.ID-Jakarta; - Pada rangkaian ayat awal Surat Al-Baqarah, Allah SWT tidak hanya memaparkan kriteria manusia yang bertakwa, tetapi juga memberikan penutup yang penuh dengan kabar gembira. Ayat kelima dari surat ini hadir sebagai kesimpulan mutlak atas sifat-sifat mulia yang telah dijelaskan pada ayat sebelumnya, mulai dari beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, menafkahkan rezeki, meyakini wahyu Allah, hingga memegang teguh keyakinan akan hari akhirat.
Sebagai bentuk
natījah atau penarikan kesimpulan Ilahi, ayat ini memberikan dua jaminan besar bagi siapapun yang memenuhi kriteria tersebut, yaitu pijakan petunjuk yang sangat kokoh dan piala keberuntungan yang hakiki. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam
Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān menjelaskan bahwa seluruh rangkaian amal dan iktikad yang disebutkan sebelumnya merupakan bukti autentik bahwa seorang hamba benar-benar sedang berdiri tegak di atas jalan petunjuk Allah.
Penggalan awal ayat ini menggunakan redaksi ulā'ika 'alā hudan mir-rabbihim. Penggunaan kata ulā'ika yang berarti mereka itu merupakan kata tunjuk jarak jauh dalam kaidah bahasa Arab. Pemilihan kata ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah bentuk penegasan atas tingginya kedudukan, kemuliaan, dan derajat orang-orang yang bertakwa di sisi Allah SWT.
Baca Juga: Mengurai Hakikat Mukmin, Muslim, Mujahid, dan Muhajir dalam Khutbah WadaMengenai makna hudan dalam konteks ini, Imam at-Thabari dalam kitab
Jāmi' al-Bayān mengutipkan pandangan sahabat Ibnu 'Abbās RA. Beliau menjelaskan bahwa berada di atas petunjuk bermakna berada di bawah naungan cahaya Ilahi, memiliki bukti yang amat nyata, serta diberikan kelurusan dan ketetapan sikap dalam menjalani kehidupan berdasar pertolongan dan taufik dari Allah SWT.
At-Thabari menambahkan bahwa kata
hudan di sini bertindak sebagai petunjuk yang meluruskan jalan hidup seseorang. Petunjuk yang terkandung dalam Al-Qur'an ini bertindak sebagai obat penawar bagi segala keraguan dan penyakit yang berada di dalam dada orang-orang yang beriman.
Rahasia Penggunaan Kata di Atas PetunjukSatu hal yang sangat menarik dari penelitian bahasa pada penggalan ayat ini adalah penggunaan preposisi 'alā yang berarti di atas. Al-Qur'an tidak sekadar menggunakan redaksi yang bermakna memiliki petunjuk, melainkan berada di atas petunjuk. Hal ini mengisyaratkan sebuah ketinggian, kekokohan, dan stabilitas hidup yang luar biasa.
Petunjuk Allah tidak hanya dipegang secara pasif, melainkan dijadikan sebagai fondasi tempat mereka berdiri tegak. Syaikh as-Sa'di menekankan bahwa Al-Qur'an sebagai sumber petunjuk telah menghilangkan segala bentuk keraguan dan kebimbangan. Peniadaan keraguan tersebut secara otomatis membuahkan keyakinan yang sempurna, sehingga landasan hidup seorang mukmin menjadi sangat kuat dan tidak mudah digoyahkan oleh dinamika zaman.
Penggalan berikutnya, wa ulā'ika humul-mufliḥūn, diawali dengan pengulangan kata ulā'ika sebagai bentuk penegasan ulang. Hadirnya kata hum di antara kata tunjuk dan kata al-mufliḥūn berfungsi sebagai pembatas atau eksklusivitas. Secara tata bahasa, struktur ini menegaskan bahwa keberuntungan sejati hanyalah milik mereka yang bertakwa, bukan kelompok yang lain.
Secara etimologi, kata al-mufliḥūn berakar dari kata yang bermakna membelah atau menembus. Kata ini biasa digunakan untuk menggambarkan seorang petani yang membelah tanah demi menghasilkan tanaman. Dengan demikian, keberuntungan yang dimaksud dalam ayat ini adalah sebuah pencapaian sukses setelah melewati perjuangan dan kesulitan.
Syaikh Abu Bakar al-Jaza'iri dalam Aysar at-Tafāsīr menjelaskan bahwa barangsiapa yang diberi taufik oleh Allah untuk beriman dan istiqamah, maka dialah orang yang benar-benar meraih petunjuk dan keberuntungan. Sebaliknya, orang yang berpaling karena kesombongan akan ditinggalkan dalam kesesatan dan tergolong sebagai orang yang rugi.
Penyebutan mir-rabbihim yang berarti dari Tuhan mereka menggarisbawahi bahwa hidayah atau petunjuk bukanlah murni hasil usaha manusia semata, melainkan anugerah langsung dari Allah SWT. Kata Rabb mencerminkan sifat Allah yang Mahapemelihara, Mahamendidik, dan Mahamengurus hamba-Nya.
Meskipun petunjuk datang dari pertolongan Ilahi, ayat-ayat sebelumnya mengisyaratkan bahwa iman dan amal saleh manusia adalah sebab utama datangnya taufik tersebut. Allah memberikan jaminan petunjuk ini sebagai akibat bagi mereka yang telah berusaha memenuhi syarat-syarat ketakwaan.
Baca Juga: Legislator Dorong Kader Muda Perkuat Riset dan Berpikir KritisImam al-Baghawi dalam
Ma'ālim at-Tanzīl menegaskan bahwa ayat kelima ini adalah pengunci rangkaian pembuka Surah Al-Baqarah yang utuh. Ayat ini menghubungkan secara langsung antara ketakwaan praktis dengan hasil akhir yang akan diterima oleh seorang hamba.
Melalui pemaparan tafsir para ulama di atas, terdapat beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik oleh setiap muslim dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, petunjuk Allah bukan sekadar norma tertulis, melainkan cahaya yang menerangi kegelapan, bukti yang meyakinkan, serta jalan lurus yang membimbing ucapan dan perbuatan manusia.
Kedua, seorang mukmin dituntut untuk menjadikan petunjuk Al-Qur'an sebagai pijakan hidup yang kokoh, bukan sekadar hiasan atau formalitas belaka. Ketiga, keberuntungan yang sejati tidak diukur berdasarkan materi, takhta, ataupun popularitas duniawi, melainkan dari sejauh mana seseorang mampu berjalan di atas garis petunjuk Allah SWT.
Keempat, Al-Qur'an berfungsi sebagai media utama yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kekufuran menuju keimanan, serta dari kesyirikan menuju tauhid yang murni.
Surat Al-Baqarah ayat 5 mempertegas bahwa identitas orang bertakwa adalah sebuah realitas yang dibuktikan melalui keteguhan iman, konsistensi ibadah, dan keyakinan yang mendalam. Dua jaminan Ilahi berupa petunjuk yang kokoh dan keberuntungan yang hakiki merupakan hadiah terbaik bagi siapa saja yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidupnya di dunia dan akhirat.
(zhd)