Luar Biasa, Kakek Ini Tuntaskan Kuliah S3 Ketiga Kalinya di Usia 89 Tahun
Muhajirin
Selasa, 09 November 2021 - 11:33 WIB
Manfred Steiner telah mengambil S3 di bidang medis dan biokimia, lalu S3 ketiga kalinya di bidang fisika kuantum (foto: brown.edu)
Menuntut ilmu tak pernah mengenal usia. Sebagaimana nasehat bijak yang sering kita dengar, tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat. Kalimat itu cocok menggambarkan sosok Manfred Steiner. Pria ini menuntaskan kuliah jenjang S3 atau doktoral untuk ketiga kalinya di usia 89 tahun.
Sebelumnya, ia merupakan Doktor di bidang medis dan biokimia, lalu ia bermimpi menjadi seorang fisikawan. Setelah menempuh kuliah S3 yang tak mudah kini ia telah menjadi doktor di bidang fisika kuantum.
Pada 15 September 2021, Steiner berhasil memperoleh gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) setelah mempertahankan disertai berjudul “Corrections to the Geometrical Interpretation of Bosonization” di Departemen Fisika Brown University.
Perjalanan Steiner mendapat gelar Ph.D tidak mudah. Pada saat masih muda, ia harus meninggalkan kota kelahirannya, Wina, ke Amerika Serikat untuk menghindari pertikaian perang dunia II.
“Saya tahu fisika adalah impian saya yang sebenarnya saat lulus SMA. Tetapi setelah perang, paman dan ibu saya menyarankan saya untuk terapi, karena itu akan menjadi pilihan yang lebih baik di tahun-tahun setelah perang yang penuh gejolak ini,” kata Steiner, dikutip laman Brown University, Selasa (9/11/2021).
Meski memiliki keunggulan di bidang fisika, Steiner harus mengikuti saran keluarga. “Nasehat keluarga saya adalah bahwa terapi adalah jalan terbaik bagi saya. Jadi saya mendamaikan diri saya, ‘mereka lebih tua dan lebih bijaksana’, dan saya mengikuti saran mereka,” ucapnya.
Kendati begitu, Steiner tetap melanjutkan pendidikan. Pada 1955, Steiner memperoleh gelar doktor medis dari Universitas Wina. Setelah mendapat gelar itu, dia berangkat ke Washington untuk magang sebagai spesialis penyakit dalam.
Sebelumnya, ia merupakan Doktor di bidang medis dan biokimia, lalu ia bermimpi menjadi seorang fisikawan. Setelah menempuh kuliah S3 yang tak mudah kini ia telah menjadi doktor di bidang fisika kuantum.
Pada 15 September 2021, Steiner berhasil memperoleh gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) setelah mempertahankan disertai berjudul “Corrections to the Geometrical Interpretation of Bosonization” di Departemen Fisika Brown University.
Perjalanan Steiner mendapat gelar Ph.D tidak mudah. Pada saat masih muda, ia harus meninggalkan kota kelahirannya, Wina, ke Amerika Serikat untuk menghindari pertikaian perang dunia II.
“Saya tahu fisika adalah impian saya yang sebenarnya saat lulus SMA. Tetapi setelah perang, paman dan ibu saya menyarankan saya untuk terapi, karena itu akan menjadi pilihan yang lebih baik di tahun-tahun setelah perang yang penuh gejolak ini,” kata Steiner, dikutip laman Brown University, Selasa (9/11/2021).
Meski memiliki keunggulan di bidang fisika, Steiner harus mengikuti saran keluarga. “Nasehat keluarga saya adalah bahwa terapi adalah jalan terbaik bagi saya. Jadi saya mendamaikan diri saya, ‘mereka lebih tua dan lebih bijaksana’, dan saya mengikuti saran mereka,” ucapnya.
Kendati begitu, Steiner tetap melanjutkan pendidikan. Pada 1955, Steiner memperoleh gelar doktor medis dari Universitas Wina. Setelah mendapat gelar itu, dia berangkat ke Washington untuk magang sebagai spesialis penyakit dalam.