Ponpes Sidogiri, Pesantren Tua Buah Tangan Cucu Rasulullah
Muhajirin
Sabtu, 17 Juli 2021 - 20:05 WIB
Santri Pondok Pesantren Sidogiri sedang memperdalam bacaan kitab kuning. Foto: istimewa
Pondok Pesantren Sidogiri merupakan bangunan tua yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Sidogiri merupakan pesantren tua yang terletak di Pasuruan, Jawa Timur. Ia telah berdiri hampit tiga abad dan lebih dikenal sebagai pesantren salaf di Indonesia
Sidogiri dikenal sebagai pesantren terbaik dalam mengelola ekonomi. Sidogiri merupakan lembaga salaf yang lebih mengedepankan pembekalan Teologi (akidah), Syariah, dan akhlakul karimah berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah baik secara Minhaju Al-Fikr dan Minhaju al-Ijtima’.
Sidogiri sudah eksis mecetak ulama ternama ternama sejak abad ke-17. Sebut saja Syekh Cholil Bangkalan, Sang Guru para Kyai Tanah Jawa. Ia merupakan salah satu dari sekian banyak ulama handal jebolan Sidogiri.
Sidogiri dikenal sebagai pesantren salaf yang maju dalam pengajaran kitab kuning menggunakan metode al-Miftah. Selain itu, Sidogiri dikenal dengan manajemen pesantren yang baik dan ekonomi syariah yang berkembang pesat. Sidogiri memiliki madrasah ranting dan setiap tahun mengirim 500-700 guru tugas dan dai ke berbagai daerah yang membutuhkan pendakwah.
Melansir dari laman resmi Sidogiri, ada dua versi terkait tahun pendirian Pesantren Sidogiri, yakni pada 1718 dan 17 45. Meski begitu. Dalam suatu catatan yang ditulis Panca Warga pada 1963 disebutkan, Sidogiri berdiri pada 1718. Catatan itu ditandatangani oleh KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KA Sa’doellah Nawawie pada 29 Oktober 1963.
Pada 1971, sebuah catatan yang ditandatangani KA Sa’doellah Nawawie menyebutkan bahwa 1971 merupakan hari ulang tahun Sidogiri yang ke-226. Berdasarkan catatan itu, Sidogiri berdiri pada 1745. Namun, versi terakhir ini dijadikan patokan Pesantren Sidogiri setiap akhir tahun pelajaran.
Pesantren Sidogiri didirikan oleh seorang Sayyid dari Cirebon, Jawa Barat bernama Sayyid Sulaiman. Beliau merupakan keturunan Rasulullah SAW dari marga Basyaiban. Ayah beliau, Sayyid Abdurrahman, adalah seorang perantau dari negeri wali, Tarim Hadramaut Yaman. Ibu beliau, Syarifah Khodijah, adalah putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Dari situ, dari garis ibu, Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.
Sidogiri dikenal sebagai pesantren terbaik dalam mengelola ekonomi. Sidogiri merupakan lembaga salaf yang lebih mengedepankan pembekalan Teologi (akidah), Syariah, dan akhlakul karimah berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah baik secara Minhaju Al-Fikr dan Minhaju al-Ijtima’.
Sidogiri sudah eksis mecetak ulama ternama ternama sejak abad ke-17. Sebut saja Syekh Cholil Bangkalan, Sang Guru para Kyai Tanah Jawa. Ia merupakan salah satu dari sekian banyak ulama handal jebolan Sidogiri.
Sidogiri dikenal sebagai pesantren salaf yang maju dalam pengajaran kitab kuning menggunakan metode al-Miftah. Selain itu, Sidogiri dikenal dengan manajemen pesantren yang baik dan ekonomi syariah yang berkembang pesat. Sidogiri memiliki madrasah ranting dan setiap tahun mengirim 500-700 guru tugas dan dai ke berbagai daerah yang membutuhkan pendakwah.
Melansir dari laman resmi Sidogiri, ada dua versi terkait tahun pendirian Pesantren Sidogiri, yakni pada 1718 dan 17 45. Meski begitu. Dalam suatu catatan yang ditulis Panca Warga pada 1963 disebutkan, Sidogiri berdiri pada 1718. Catatan itu ditandatangani oleh KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KA Sa’doellah Nawawie pada 29 Oktober 1963.
Pada 1971, sebuah catatan yang ditandatangani KA Sa’doellah Nawawie menyebutkan bahwa 1971 merupakan hari ulang tahun Sidogiri yang ke-226. Berdasarkan catatan itu, Sidogiri berdiri pada 1745. Namun, versi terakhir ini dijadikan patokan Pesantren Sidogiri setiap akhir tahun pelajaran.
Pesantren Sidogiri didirikan oleh seorang Sayyid dari Cirebon, Jawa Barat bernama Sayyid Sulaiman. Beliau merupakan keturunan Rasulullah SAW dari marga Basyaiban. Ayah beliau, Sayyid Abdurrahman, adalah seorang perantau dari negeri wali, Tarim Hadramaut Yaman. Ibu beliau, Syarifah Khodijah, adalah putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Dari situ, dari garis ibu, Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.