Gus Baha: Akhlak yang Baik, Puncak Keimanan Seorang Muslim
Muhajirin
Senin, 06 Desember 2021 - 07:37 WIB
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha (foto: Istimewa)
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha menegaskan, puncak keimanan seorang muslim adalah akhlak yang baik. Menjadi seorang muslim merupakan anugerah dan rahmat tak terhingga dari Allah Ta’ala. Tak semua manusia mendapatkan nikmat tersebut.
Nilai-nilai dan ajaran luhur agama Islam, rahmatan lil-alamin, menjadi bukti betapa Islam mendambakan suatu tatanan masyarakat yang Islami. Sebab, hal itulah yang memberikan kedamaian bagi seluruh makhluk yang berada di alam semesta ini.
Pangkal dari sebuah nilai-nilai Islam itu adalah keimanan kepada Allah Ta’ala. Sementara buah dari iman adalah pengalaman spiritual ruhani. Sehingga, keluaran dari keimanan seorang muslim akan melahirkan kedamaian dan kebahagiaan bagi sesama.
Gus Baha menyebut, bagi seorang muslim beriman, pasti akan memanen buah rasa keimanan tersebut. Hal itu termaktub dalam hadits-hadits Rasulullah SAW. Hanya saja, masalah ini kerap terlupakan. Padahal, bab tersebut merupakan masalah penting untuk menumbuhkan semangat umat Islam meningkatkan keimanan dan mencintai agama Islam sebagai agama perdamaian.
“Rasa manisnya iman ini sering disebut dalam hadits. Tetapi hal ini jarang sekali diangkat oleh banyak orang. Padahal ulama dalam syarah-syarah hadits menjelaskan banyak masalah ini,” kata Gus Baha melalui kanal youtube Ayo Ngaji, dikutip Senin (6/12/2021).
Gus Baha mengutip kutipan dalam kitab Fathul Bari karangan Ibnu Hajar Asqalani, kasihnya iman hanya dapat diperoleh oleh umat Islam yang benar-benar beriman. Manisnya iman yang dirasakan adalah kenyamanan akal pikiran ajaran yang disampaikan Rasulullah SAW.
Maka orang yang merasakan manisnya iman akan mudah mengikuti segala tindak-tanduk Rasulullah SAW. Hal itu berarti orang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah akan senantiasa melahirkan akhlak yang mulia dan terpuji.
Nilai-nilai dan ajaran luhur agama Islam, rahmatan lil-alamin, menjadi bukti betapa Islam mendambakan suatu tatanan masyarakat yang Islami. Sebab, hal itulah yang memberikan kedamaian bagi seluruh makhluk yang berada di alam semesta ini.
Pangkal dari sebuah nilai-nilai Islam itu adalah keimanan kepada Allah Ta’ala. Sementara buah dari iman adalah pengalaman spiritual ruhani. Sehingga, keluaran dari keimanan seorang muslim akan melahirkan kedamaian dan kebahagiaan bagi sesama.
Gus Baha menyebut, bagi seorang muslim beriman, pasti akan memanen buah rasa keimanan tersebut. Hal itu termaktub dalam hadits-hadits Rasulullah SAW. Hanya saja, masalah ini kerap terlupakan. Padahal, bab tersebut merupakan masalah penting untuk menumbuhkan semangat umat Islam meningkatkan keimanan dan mencintai agama Islam sebagai agama perdamaian.
“Rasa manisnya iman ini sering disebut dalam hadits. Tetapi hal ini jarang sekali diangkat oleh banyak orang. Padahal ulama dalam syarah-syarah hadits menjelaskan banyak masalah ini,” kata Gus Baha melalui kanal youtube Ayo Ngaji, dikutip Senin (6/12/2021).
Gus Baha mengutip kutipan dalam kitab Fathul Bari karangan Ibnu Hajar Asqalani, kasihnya iman hanya dapat diperoleh oleh umat Islam yang benar-benar beriman. Manisnya iman yang dirasakan adalah kenyamanan akal pikiran ajaran yang disampaikan Rasulullah SAW.
Maka orang yang merasakan manisnya iman akan mudah mengikuti segala tindak-tanduk Rasulullah SAW. Hal itu berarti orang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah akan senantiasa melahirkan akhlak yang mulia dan terpuji.