Pesantren Jadi Institusi Pendidikan Paling Komplit dan Siap Jawab Tantangan Zaman
Muhajirin
Rabu, 15 Desember 2021 - 18:56 WIB
Ilustrasi santri Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan (foto: Facebook/Santri Sidogiri)
Pesantren menjadi jawaban atas harapan masyarakat terhadap lembaga pendidikan yang komplit. Pesantren tak hanya berfokus pada aspek kognitif semata, namun para santri dididik menjadi pemuda yang berkarakter Qur’ani, memiliki jiwa sosial tinggi, kreatif dan inovatif.
Pada era modern saat ini sistem pondok pesantren mengalami perkembangan sangat pesat. Mayoritas pesantren sudah mengkombinasikan pendidikan formal dengan sistem asrama. Hal itulah yang membuat pesantren jadi lembaga pendidikan komplit.
Tak hanya belajar dalam sistem klasikal, namun para santri terdidik dan terpantau selama 24 jam. Semua aktivitas santri berjalan berdasarkan nilai-nilai kedisiplinan yang berlandaskan pondasi agama yang kuat. Itu membuat karakter santri menjadi kuat dan selalu siap beradaptasi dengan segala kondisi zaman.
Gus Najib bin KH Ma’mun, salah satu pendidik di Pondok Pesantren Al-Fattah Lamongan, Jawa Timur membenarkan hal tersebut. Ia mencontohkan di Pesantren Al-Fattah memiliki semua basis pendidikan yang ada, mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Universitas.
Baca Juga:Pengasuh Pondok Tazakka: Pesantren Basis Utama Ciptakan Indonesia Maju
Namun yang menarik, sistem pesantren membuat pendidikan formal mengikut kepada nilai-nilai kepesantrenan. Dengan cara itu, para santri bisa mendapatkan keberkahan ilmu formal melalui pesantren. Ibarat, santri yang memiliki kecenderungan ilmu matematika, akan menjadi ulama matematikawan.
Kehidupan sosial pun demikian. Di dalam pesantren, segalah aspek kehidupan diajarkan kepada santri. Mulai dari sisi kehidupan toleransi, sisi kehidupan kerukunan, hingga kehidupan berjamaah dan bermasyarakat.
Pada era modern saat ini sistem pondok pesantren mengalami perkembangan sangat pesat. Mayoritas pesantren sudah mengkombinasikan pendidikan formal dengan sistem asrama. Hal itulah yang membuat pesantren jadi lembaga pendidikan komplit.
Tak hanya belajar dalam sistem klasikal, namun para santri terdidik dan terpantau selama 24 jam. Semua aktivitas santri berjalan berdasarkan nilai-nilai kedisiplinan yang berlandaskan pondasi agama yang kuat. Itu membuat karakter santri menjadi kuat dan selalu siap beradaptasi dengan segala kondisi zaman.
Gus Najib bin KH Ma’mun, salah satu pendidik di Pondok Pesantren Al-Fattah Lamongan, Jawa Timur membenarkan hal tersebut. Ia mencontohkan di Pesantren Al-Fattah memiliki semua basis pendidikan yang ada, mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Universitas.
Baca Juga:Pengasuh Pondok Tazakka: Pesantren Basis Utama Ciptakan Indonesia Maju
Namun yang menarik, sistem pesantren membuat pendidikan formal mengikut kepada nilai-nilai kepesantrenan. Dengan cara itu, para santri bisa mendapatkan keberkahan ilmu formal melalui pesantren. Ibarat, santri yang memiliki kecenderungan ilmu matematika, akan menjadi ulama matematikawan.
Kehidupan sosial pun demikian. Di dalam pesantren, segalah aspek kehidupan diajarkan kepada santri. Mulai dari sisi kehidupan toleransi, sisi kehidupan kerukunan, hingga kehidupan berjamaah dan bermasyarakat.