LANGIT7.ID, Jakarta - Pesantren menjadi jawaban atas harapan masyarakat terhadap lembaga pendidikan yang komplit. Pesantren tak hanya berfokus pada aspek kognitif semata, namun para santri dididik menjadi pemuda yang berkarakter Qur’ani, memiliki jiwa sosial tinggi, kreatif dan inovatif.
Pada era modern saat ini sistem pondok pesantren mengalami perkembangan sangat pesat. Mayoritas pesantren sudah mengkombinasikan pendidikan formal dengan sistem asrama. Hal itulah yang membuat pesantren jadi lembaga pendidikan komplit.
Tak hanya belajar dalam sistem klasikal, namun para santri terdidik dan terpantau selama 24 jam. Semua aktivitas santri berjalan berdasarkan nilai-nilai kedisiplinan yang berlandaskan pondasi agama yang kuat. Itu membuat karakter santri menjadi kuat dan selalu siap beradaptasi dengan segala kondisi zaman.
Gus Najib bin KH Ma’mun, salah satu pendidik di Pondok Pesantren Al-Fattah Lamongan, Jawa Timur membenarkan hal tersebut. Ia mencontohkan di Pesantren Al-Fattah memiliki semua basis pendidikan yang ada, mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Universitas.
Baca Juga: Pengasuh Pondok Tazakka: Pesantren Basis Utama Ciptakan Indonesia Maju Namun yang menarik, sistem pesantren membuat pendidikan formal mengikut kepada nilai-nilai kepesantrenan. Dengan cara itu, para santri bisa mendapatkan keberkahan ilmu formal melalui pesantren. Ibarat, santri yang memiliki kecenderungan ilmu matematika, akan menjadi ulama matematikawan.
Kehidupan sosial pun demikian. Di dalam pesantren, segalah aspek kehidupan diajarkan kepada santri. Mulai dari sisi kehidupan toleransi, sisi kehidupan kerukunan, hingga kehidupan berjamaah dan bermasyarakat.
“Kita lihat aktivitas kepesantrenan saja, dari malam jam 03.00 dilatih untuk tahajud, dhuha dan baca wirid sebelum masuk sekolah. Jamaah dzuhur, ashar, magrib, dan isya, dan semua itu kita latih untuk menjadi karakter yang baik, menjadi anak yang shaleh,” kata Gus Najib melalui kanal youtube LP3ES Jakarta, dikutip Rabu (15/12/2021).
Pesantren dan Perkembangan TeknologiGus Najib tak menampik perkembangan teknologi yang begitu cepat dan pesat. Al-Fattlah pun telah melakukan berbagai aktivitas maya untuk menyebarkan dakwah melalui media internet. Bagi dia, berdakwah secara daring merupakan keharusan yang tak bisa ditolak.
Beruntung, Pandemi Covid-19 membuka mata setiap orang akan perubahan. Itu berimbas dengan banyaknya pesantren yang mulai menjajal teknologi dalam pembelajaran di pondok pesantren maupun dalam berdakwah.
Baca Juga: Pesantren Harus Melek Digital Atasi Otoritas Keilmuan yang Hilang di Medsos“Karena bagaimanapun juga, berdakwah di media sosial itu harus. Harus diisi, harus dimanfaatkan, dan harus menyelami di dalam dunia maya itu. Nah, maka dengan jiwa kepesantrenan yang telah dimiliki, sifat toleransi, insya Allah akan menjadi jawaban, asal dalam hati adalah hati yang bersih, tidak ada benci, dengki, dan sebagainya,” kata Gus Najib.
Kelebihan santri ketika terjun ke dunia internet sudah memiliki perisai. Ada ajaran
tabayyun untuk menangkal hoaks, dan perintah tak berbicara jika tak memiliki otoritas keilmuan pada masalah yang tengah diperdebatkan, hingga adab-adab dalam bersosial.
Modal itu menjadi pondasi kuat sehingga para santri mampu tampil dengan wajah baru di media sosial. Mereka akan datang dengan segudang kreativitas dan inovasi. Terlebih santri berada dalam lingkaran pagar selama bertahun-tahun, itu membuat mereka selalu penasaran dengan hal baru. Itu mendorong mereka untuk terus berpikir kreatif.
Alumni Pesantren Siap Jawa Persoalan di Tengah MasyarakatGus Najib membeberkan, di dalam pesantren para santri diajari kehidupan yang sesungguhnya. Santri yang ragam latar belakang menciptakan toleransi, hidup sederhana, saling tolong-menolong, disiplin dan lain sebagainya. Pendidikan moral itu jarang didapatkan bagi anak remaja yang berkeliaran tanpa tujuan pasti.
Hal itu yang membuat nilai-nilai pesantren sangat tepat jika diaplikasikan di tengah masyarakat. “Pendidikan pesantren, terutama kehidupan sosial di dalam pesantren, sangat membantu untuk kehidupan sosial di tengah masyarakat.Pesantren merupakan potret kehidupan masyarakat luas yang berada dalam lingkaran luas tanah. Para santri dibekali kemampuan beradaptasi dengan masyarakat,” ucapnya.
Gus Najib lalu berpesan kepada masyarakat untuk memiliki tempat yang bisa mengantarkan kepada kenyamanan, ketenangan jiwa, ridha Allah, dan hidup yang shalih. Tempat itu adalah pesantren. Pesantren memiliki nuansa religi yang menyejukkan hati.
“Masjid banyak, tapi belum tentu mendapatkan guru di sana. Kalau di pesantren kita mendapatkan guru yang bisa mengantarkan kita pada ketenangan dan keridhaan Allah,” ucap Gus Najib.
(jqf)