home edukasi & pesantren

Pendidikan Bukan Hanya Monopoli Institusi Sekolah

Selasa, 21 Desember 2021 - 19:20 WIB
Ilustrasi belajar di sekolah (foto: langit7.id/istock)
Cakupan pendidikan pada hakikatnya sangatlah luas, tak terbatas pada ruang kelas semata. Sementara hari ini pendidikan hanya dianggap ada di sekolah atau perguruan tinggi. Marak dipahami belajar hanya dilakukan melalui bangku-bangku sekolah. Pemikiran itu melahirkan anggapan bahwa anak tak belajar jika tidak bersekolah.

Fasilitator Pendidikan Kerakyatan, Toto Rahardjo, menilai pembatasan belajar hanya dalam institusi sekolah tidak adil. Hal itu jadi persoalan besar dalam dunia pendidikan. Padahal, proses pendidikan juga banyak terjadi di luar sekolah. Dia mencontohkan komunitas di tengah masyarakat dalam mewariskan ilmu pengetahuan dan skill seperti tukang kayu.

“Sekarang lihat, kalau kita misalnya berada di komunitas tukang kayu, dari mana dia sekolah dulu? Sistem belajar dia kan di lingkungannya, ada keluarga, nanti anaknya juga akan melanjutkan keahlian itu. Ini kan diputus oleh sekolah. Sama isu pangan, kesehatan, dll, itu sudah diambil alih oleh institusi yang bernama sekolah,” kata Toto dalam kanal YouTube CakNun.com, Selasa (21/12/2021).

Baca Juga: Pelaksanaan Belajar Daring Perparah Ketimpangan Pendidikan Indonesia



Kondisi ini melahirkan pemahaman keliru di tengah masyarakat. Keluarga pun tidak menyadari kewajibannya sebagai madrasah pertama bagi anak. Jamak pula orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada institusi sekolah.

“Padahal tidak seperti itu mestinya. Kalau Ki Hajar Dewantara jelas mengatakan, tidak bisa sekolah menggantikan fungsi keluarga. Maka, seberapa jauh interaksi dan komunikasi yang ada di dalam keluarga itu yang paling utama, sehingga keluarga menjadi sekolah yang utama dan penting di dalam proses pendidikan,” ucapnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
pendidikan sekolah filsafat pendidikan
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya