LANGIT7.ID, Jakarta - Cakupan pendidikan pada hakikatnya sangatlah luas, tak terbatas pada ruang kelas semata. Sementara hari ini pendidikan hanya dianggap ada di sekolah atau perguruan tinggi. Marak dipahami belajar hanya dilakukan melalui bangku-bangku sekolah. Pemikiran itu melahirkan anggapan bahwa anak tak belajar jika tidak bersekolah.
Fasilitator Pendidikan Kerakyatan, Toto Rahardjo, menilai pembatasan belajar hanya dalam institusi sekolah tidak adil. Hal itu jadi persoalan besar dalam dunia pendidikan. Padahal, proses pendidikan juga banyak terjadi di luar sekolah. Dia mencontohkan komunitas di tengah masyarakat dalam mewariskan ilmu pengetahuan dan skill seperti tukang kayu.
“Sekarang lihat, kalau kita misalnya berada di komunitas tukang kayu, dari mana dia sekolah dulu? Sistem belajar dia kan di lingkungannya, ada keluarga, nanti anaknya juga akan melanjutkan keahlian itu. Ini kan diputus oleh sekolah. Sama isu pangan, kesehatan, dll, itu sudah diambil alih oleh institusi yang bernama sekolah,” kata Toto dalam kanal YouTube CakNun.com, Selasa (21/12/2021).
Baca Juga: Pelaksanaan Belajar Daring Perparah Ketimpangan Pendidikan Indonesia
Kondisi ini melahirkan pemahaman keliru di tengah masyarakat. Keluarga pun tidak menyadari kewajibannya sebagai madrasah pertama bagi anak. Jamak pula orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada institusi sekolah.
“Padahal tidak seperti itu mestinya. Kalau Ki Hajar Dewantara jelas mengatakan, tidak bisa sekolah menggantikan fungsi keluarga. Maka, seberapa jauh interaksi dan komunikasi yang ada di dalam keluarga itu yang paling utama, sehingga keluarga menjadi sekolah yang utama dan penting di dalam proses pendidikan,” ucapnya.
Baca Juga: Ki Hajar Dewantara Ternyata Pernah Jadi Santri Hingga Hafal 30 Juz Al-QuranToto menegaskan, setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi lebih baik. Namun orang tua harus memahami seberapa jauh fungsi atau potensi untuk perkembangan anak.
Orang tua harus memahami bahwa pendidikan itu sangat luas. Tak sebatas sekolah saja. Toto mencontohkan pendidikan tak langsung kepada anak, yakni pendidikan berbasis pengalaman di mana anak mengalami sendiri suatu peristiwa yang bisa mendidik dirinya.
Pernah suatu ketika anak Toto yang masih kecil tertarik pada obat nyamuk yang tengah menyala. Tanpa pikir panjang, anak itu memegang api dari obat nyamuk itu. Spontan sang anak menangis kepanasan.
“Itu kan pengalaman riil, dia mengalami sendiri sehingga saya tak perlu menjelaskan lagi secara teoritis. Tugas orang dewasa adalah agar anak-anak tidak fobia sama api. Secara gampang, mestinya pendidikan tujuan utamanya memunculkan kesadaran manusia,” kata Toto.
Orang tua bertugas membimbing anak menemukan kesadaran sendiri, karena itu akan mengakar sampai kapan pun. Berbeda dengan hafalan yang menjadi metode mayoritas sekolah.
“Nah, sekolah lebih banyak praktik-praktik yang justru tidak dia alami, tidak dia temukan sendiri, tapi hanya menghafalkan sesuatu yang dia tidak alami. Mungkin saja apa yang disebut kontekstual menjadi tidak demikian, kira-kira itulah,” pungkasnya.
(jqf)