Muktamar Nahdlatul Ulama ke-34
Resmi Dibuka, Ketum PBNU Sampaikan 5 Modal Kebangkitan Indonesia
Muhajirin
Rabu, 22 Desember 2021 - 13:26 WIB
Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj menyampaikan pidato dalam pembukaan Muktamar NU ke-34 di Lampung, Rabu (22/12) (foto: nu.or.id)
Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj, menyampaikan sudut pandang santri dan pesantren dalam melihat peluang pembangunan bangsa Indonesia. Dia menyebut lima kekayaan bangsa Indonesia yang bisa jadi modal besar untuk kebangkitan dan pembangunan tersebut.
Lima kekayaan itu pula yang menjadi modal besar para pejuang kemerdekaan tempo dulu. Dia mencontohkan lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia.
NU lahir dari kalangan pesantren sebagai jawaban atas tantangan zaman. Islam harus terlibat memberi warna kepada zaman yang tak menentu, mencari cara agar cahaya Allah terlihat terang dan tidak padam oleh kekufuran. Maka para kiai pesantren terpanggil untuk menjawab tantangan dunia yang sedang bergolak dari sudut agama.
Pada tatanan dunia global, perang dunia I baru saja usai saat NU berdiri. Di nusantara, patriotisme mulai menemukan bentuknya. Perlawanan terhadap penjajahan, kemiskinan, ketidakadilan, atau sering disebut era kebangkitan nasional.
Pada era itu, NU sebagai Jamâiyah sepenuhnya lahir dari transformasi praktik kemandirian jamaah, yakni kemandirian komunitas pesantren yang selama berabad-abad bertahan hidup dalam tekanan kolonialisme.
Pada Agustus 45 bom sekutu meledak di Jepang, ledakan itu menandai akhir perang dunia II sekaligus membuktikan betapa akselerasi teknologi bisa merusak kehidupan bersama. Sesudahnya dunia menyaksikan satu demi satu kelahiran banyak negara bangsa. Dunia berubah, umat manusia lalu terjepit di antara dua pilihan masa depan.
Saat itu ada pilihan bagi Indonesia untuk menjadi negara sekuler atau menjadi negara agama. Suasana zaman saat NU lahir diliputi pertanyaan besar, apakah selepas perang demi perang, setelah begitu banyak darah tumpah, kita sebagai umat manusia bisa hidup saling berbagi di atas bumi Allah? Kalaupun bisa bagaimana caranya?.
Lima kekayaan itu pula yang menjadi modal besar para pejuang kemerdekaan tempo dulu. Dia mencontohkan lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia.
NU lahir dari kalangan pesantren sebagai jawaban atas tantangan zaman. Islam harus terlibat memberi warna kepada zaman yang tak menentu, mencari cara agar cahaya Allah terlihat terang dan tidak padam oleh kekufuran. Maka para kiai pesantren terpanggil untuk menjawab tantangan dunia yang sedang bergolak dari sudut agama.
Pada tatanan dunia global, perang dunia I baru saja usai saat NU berdiri. Di nusantara, patriotisme mulai menemukan bentuknya. Perlawanan terhadap penjajahan, kemiskinan, ketidakadilan, atau sering disebut era kebangkitan nasional.
Pada era itu, NU sebagai Jamâiyah sepenuhnya lahir dari transformasi praktik kemandirian jamaah, yakni kemandirian komunitas pesantren yang selama berabad-abad bertahan hidup dalam tekanan kolonialisme.
Pada Agustus 45 bom sekutu meledak di Jepang, ledakan itu menandai akhir perang dunia II sekaligus membuktikan betapa akselerasi teknologi bisa merusak kehidupan bersama. Sesudahnya dunia menyaksikan satu demi satu kelahiran banyak negara bangsa. Dunia berubah, umat manusia lalu terjepit di antara dua pilihan masa depan.
Saat itu ada pilihan bagi Indonesia untuk menjadi negara sekuler atau menjadi negara agama. Suasana zaman saat NU lahir diliputi pertanyaan besar, apakah selepas perang demi perang, setelah begitu banyak darah tumpah, kita sebagai umat manusia bisa hidup saling berbagi di atas bumi Allah? Kalaupun bisa bagaimana caranya?.