Dua Alasan Penting Ketika Memasukkan Anak ke Pesantren
Muhajirin
Kamis, 06 Januari 2022 - 18:02 WIB
Kegiatan santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo (foto: nuruljadid.net)
Pondok pesantren kerap dianggap hanya sebagai 'buangan' saat anak tak diterima di sekolah favorit. Itu mengakibatkan pesantren berada di urutan kedua dalam memilih lembaga pendidikan untuk anak.
Masalah niat memondokkan anak di pesantren ini pun beragam. Sebagian orang tua yang menyekolahkan anak ke pesantren hanya karena ingin lepas dari kewajiban mengurus anak.
Bagi Pakar Parenting, Ustadz Miftahul Jinan, niat orang tua dalam menyekolahkan anak di pondok pesantren berdampak besar bagi keberhasilan santri.
"Ada di antara kita yang memondokkan anak hanya karena terbebas mengurus anak. Dia tidak bisa mengurus anak, sehingga dimasukkan anak ke pesantren," kata Jinan dalam webinar parenting yang diadakan MA Darul Marhamah, dikutip Kamis (6/1/2022).
Tak hanya itu, banyak orang tua menyekolahkan anak ke pesantren karena anaknya dipandang sudah 'rusak'. Mereka berpikir pesantren hanya sebatas 'bengkel' anak yang bisa memperbaiki rongsokan.
Dengan niat seperti itu, kondisi anak bisa saja semakin parah. Harapan anak menjadi shaleh tidak tercapai, justru menjadi 'thaleh'. Terdapat pula wali santri yang menjadikan pesantren sebagai destinasi setelah sang anak tak diterima di sekolah favorit.
"Ada tidak diterima di sekolah favorit, maka dipondokkan saja. Ini marak di tengah masyarakat. (Yang lain) memondokkan anak karena biayanya murah, sementara di sekolah favorit sangat mahal," kata Jinan.
Masalah niat memondokkan anak di pesantren ini pun beragam. Sebagian orang tua yang menyekolahkan anak ke pesantren hanya karena ingin lepas dari kewajiban mengurus anak.
Bagi Pakar Parenting, Ustadz Miftahul Jinan, niat orang tua dalam menyekolahkan anak di pondok pesantren berdampak besar bagi keberhasilan santri.
"Ada di antara kita yang memondokkan anak hanya karena terbebas mengurus anak. Dia tidak bisa mengurus anak, sehingga dimasukkan anak ke pesantren," kata Jinan dalam webinar parenting yang diadakan MA Darul Marhamah, dikutip Kamis (6/1/2022).
Tak hanya itu, banyak orang tua menyekolahkan anak ke pesantren karena anaknya dipandang sudah 'rusak'. Mereka berpikir pesantren hanya sebatas 'bengkel' anak yang bisa memperbaiki rongsokan.
Dengan niat seperti itu, kondisi anak bisa saja semakin parah. Harapan anak menjadi shaleh tidak tercapai, justru menjadi 'thaleh'. Terdapat pula wali santri yang menjadikan pesantren sebagai destinasi setelah sang anak tak diterima di sekolah favorit.
"Ada tidak diterima di sekolah favorit, maka dipondokkan saja. Ini marak di tengah masyarakat. (Yang lain) memondokkan anak karena biayanya murah, sementara di sekolah favorit sangat mahal," kata Jinan.