LANGIT7.ID, Jakarta - Pondok pesantren kerap dianggap hanya sebagai 'buangan' saat anak tak diterima di sekolah favorit. Itu mengakibatkan pesantren berada di urutan kedua dalam memilih lembaga pendidikan untuk anak.
Masalah niat memondokkan anak di pesantren ini pun beragam. Sebagian orang tua yang menyekolahkan anak ke pesantren hanya karena ingin lepas dari kewajiban mengurus anak.
Bagi Pakar Parenting, Ustadz Miftahul Jinan, niat orang tua dalam menyekolahkan anak di pondok pesantren berdampak besar bagi keberhasilan santri.
"Ada di antara kita yang memondokkan anak hanya karena terbebas mengurus anak. Dia tidak bisa mengurus anak, sehingga dimasukkan anak ke pesantren," kata Jinan dalam webinar parenting yang diadakan MA Darul Marhamah, dikutip Kamis (6/1/2022).
Tak hanya itu, banyak orang tua menyekolahkan anak ke pesantren karena anaknya dipandang sudah 'rusak'. Mereka berpikir pesantren hanya sebatas 'bengkel' anak yang bisa memperbaiki rongsokan.
Dengan niat seperti itu, kondisi anak bisa saja semakin parah. Harapan anak menjadi shaleh tidak tercapai, justru menjadi 'thaleh'. Terdapat pula wali santri yang menjadikan pesantren sebagai destinasi setelah sang anak tak diterima di sekolah favorit.
"Ada tidak diterima di sekolah favorit, maka dipondokkan saja. Ini marak di tengah masyarakat. (Yang lain) memondokkan anak karena biayanya murah, sementara di sekolah favorit sangat mahal," kata Jinan.
Padahal, Rasulullah SAW sudah mengingatkan, seseorang akan mendapatkan ganjaran amalan sesuai niat. Itu termaktub dalam hadits pertama Kitab Arbain An-Nawawi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
"Semua perbuatan tergantung niatnya, dan balasan bagi tiap-tiap orang tergantung apa yang diniatkan."
Hadits tersebut menjadi pengingat penting agar orang tua memperbaiki niat sebelum menyekolahkan anak ke pondok pesantren.
Sebenarnya Al-Qur'an telah menjawab persoalan ini, sebagaimana tertulis jelas dalam Surah At-Taubah ayat 122:
"Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya."
Ayat ini cukup jelas sebagai dasar tujuan utama menyekolahkan anak di pesantren. Dua tujuan itu yakni
tafaqquh fiddin (memperdalam ilmu agama) dan
indzar al-
qoun (berdakwah). Orang tua harus menjadikan dua tujuan tersebut sebagai motivasi utama dalam menyekolahkan anak di pesantren.
"Memasukkan anak ke pondok adalah untuk
tafaqquh fiddin dan
indzar Al-qoun. Orang tua juga harus punya visi misi tentang kesalehan anak. Kalau tidak kuat, maka orang tua mudah goyah ketika mendengar kabar tidak baik dari pesantren," pungkasnya.
(jqf)