Ini Respons Aswaja NU Jatim Soal Sesajen di Semeru
Fajar adhitya
Senin, 10 Januari 2022 - 19:35 WIB
Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur. (Foto: Istimewa)
Viral seorang pria menendang sesajen di kawasan Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur. Ia merekam aksinya dalam bentuk video yang kemudian viral di media sosial. Pria itu memandang sesajen akan mendatangkan murka Allah. Ia lalu mengobrak-abrik sesajen di hadapannya dengan cara melempar, membuang, dan menendangnya jauh-jauh.
Menurut Direktur Aswaja Nahdlatul Ulama Center PWNU Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin mengatakan sesajen yang ditendang pria dalam video yang viral tersebut merupakan cara warga muslim sekitar untuk menghalau bencana. Rekannya yang bernama Abdul Hanan mengirim pesan berisi video tersebut dan meminta pendapatnya.
Baca juga:Ziarah dan Tawasul ke Makam Waliyullah Tidak Syirik namun Perlu Berhati-hati
"Tuan Abdul Hanan, teman bermain saat di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran, Gondanglegi, Malang yang asli kelahiran Pronojiwo, Lumajang ini menelepon saya pada Sabtu kemarin dan mengirim video ada orang yang menendang sesajen yang dikatakan syirik dan justru mengundang murka Allah," kata Kiai Ma'ruf Khozin, Senin (10/1/2022) dikutip Facebook-nya.
Di WhatsApp, temannya itu menulis: "Video di atas adalah suatu ritual, di mana setelah 40 hari meletusnya gunung Semeru bakda Magrib kami membaca tala bala, Yasin, dll. Sesuai petunjuk salah satu kiai. Pagi harinya kami memasang semacam sesajen (petek’an: Madura). Namun ada kelompok minhum yang membuang dan meng-upload di medsos. Masyarakat kami sangat tidak terima dengan perilaku mereka. Bagiamana cara menyikapinya, kiai?"
Kiai Ma'ruf Khozin mengaku sering mengikuti beberapa Bahtsul Masail di PWNU yang berkaitan dengan tradisi, seperti bersih-bersih kampung, larung laut, nyadran dan sebagainya. Para musyawirin selalu memberi perincian dari kitab Fathul Mu’in yang bersumber dari kitab Tuhfah Ibnu Hajar.
Baca juga:Digandrungi Selebritas, Spirit Doll Sebabkan Pendangkalan Akidah
Menurut Direktur Aswaja Nahdlatul Ulama Center PWNU Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin mengatakan sesajen yang ditendang pria dalam video yang viral tersebut merupakan cara warga muslim sekitar untuk menghalau bencana. Rekannya yang bernama Abdul Hanan mengirim pesan berisi video tersebut dan meminta pendapatnya.
Baca juga:Ziarah dan Tawasul ke Makam Waliyullah Tidak Syirik namun Perlu Berhati-hati
"Tuan Abdul Hanan, teman bermain saat di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran, Gondanglegi, Malang yang asli kelahiran Pronojiwo, Lumajang ini menelepon saya pada Sabtu kemarin dan mengirim video ada orang yang menendang sesajen yang dikatakan syirik dan justru mengundang murka Allah," kata Kiai Ma'ruf Khozin, Senin (10/1/2022) dikutip Facebook-nya.
Di WhatsApp, temannya itu menulis: "Video di atas adalah suatu ritual, di mana setelah 40 hari meletusnya gunung Semeru bakda Magrib kami membaca tala bala, Yasin, dll. Sesuai petunjuk salah satu kiai. Pagi harinya kami memasang semacam sesajen (petek’an: Madura). Namun ada kelompok minhum yang membuang dan meng-upload di medsos. Masyarakat kami sangat tidak terima dengan perilaku mereka. Bagiamana cara menyikapinya, kiai?"
Kiai Ma'ruf Khozin mengaku sering mengikuti beberapa Bahtsul Masail di PWNU yang berkaitan dengan tradisi, seperti bersih-bersih kampung, larung laut, nyadran dan sebagainya. Para musyawirin selalu memberi perincian dari kitab Fathul Mu’in yang bersumber dari kitab Tuhfah Ibnu Hajar.
Baca juga:Digandrungi Selebritas, Spirit Doll Sebabkan Pendangkalan Akidah