Ada cara mengalihkan hujan dalam Islam tanpa perlu sesajen dan dukun. Upaya ini sesuai syariat yakni memohon kepada Allah sebagai mana kebutuhan manusia.
Adapun dalam menyikapi sesajen, seorang muslim perlu meluruskan dan berdakwah dengan cara hikmah. Pada sisi lain, pemerintah perlu ikut bertanggung jawab untuk menjaga aqidah masyarakat.
Ia mengingatkan agar umat Islam tidak mengganggu suatu kepercayaan yang dianggap baik oleh masyarakat tertentu. Ia memberikan pandangan terhadap kejadian viral beberapa waktu lalu, saat seseorang yang menendang sesajen di Gunung Semeru.
Sesajen menjadi simbol dan sarana negosiasi spiritual kepada hal-hal ghaib. Ini dilakukan agar makhluk halus di atas kekuatan manusia tidak mengganggu.
Buya Yahya kembali menegaskan bahwa sesajen adalah tradisi yang tidak ada dalam Islam. Apalagi seroang muslim mempersembahkan sesajen sebagai ritual agama lain.
Ritual sajen ini biasa dilakukan sebagai rasa syukur serta permohonan yang tulus dan ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bukan meminta sesuatu kepada jins atau makhluk ciptaan-Nya.
Kiai Cholil menyatakan perusakan sesajen yang bersifat budaya atau sebagai perangkat ibadah ummat agama lain tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun. Sebab, menurutnya, karakteristik dakwah itu mengajak bukan menginjak.
Kiai M'aruf Khozin menyarankan agar sesajen diganti dengan sedekah makanan. Warga di sekitar Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur membuat makanan untuk disedekahkan atau dimakan bersama-sama.