LANGIT7.ID, Jakarta - Budaya sajen atau sesajen merupakan salah satu warisan budaya yang berkembang di bumi nusantara. Biasanya, ritual ini dilakukan oleh masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai kebudayaan yang menjadi identitas, serta kearifan masyarakat lokal.
Ritual sajen ini biasa dilakukan sebagai rasa syukur serta permohonan yang tulus dan ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bukan meminta sesuatu kepada Jin atau makhluk ciptaan-Nya.
Beragam adat dan budaya yang dilakukan di Indonesia sendiri tidak terlepas dengan adanya sajen. Tak hanya itu, sesajen juga dinilai sebagai aktualisasi dari pikiran, keinginan, dan perasaan pelaku untuk lebih dekat dengan Tuhan.
Baca juga:
Viral Perusakan Sesajen, KH Cholil Nafis: Dakwah Itu Mengajak, Bukan MenginjakBerikut ini macam-macam tradisi di Nusantara berkaitan dengan ritual sesajen:
Bali Saat berada di Bali seringkali ditemui sajen yang berada di rumah atau tepi jalan biasa masyarakat Bali menyebutnya canang sari, ukurannya kecil dibandingkan jenis sesajen lainnya yang dibuat oleh pemeluk Hindu di Bali.
Di Bali sendiri sesajen dimaksudkan sebagai cara masyarakat yang memeluk Hindu untuk mengucap rasa syukur kepada Tuhan sebagai penciptanya.
Selain itu, setiap pagi masyarakat Bali menempatkan canang sari sebagai persembahan yang berarti berserah diri atas materi dan waktu kepada Yang Maha Kuasa, juga bermakna sebagai ucapan terima kasih mereka kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
Baca juga:
Surat Al Anam Ayat 108: Larangan Memaki Sesembahan Agama LainJawa Sesajen menjadi salah satu akulturasi budaya Hindu dan Buddha yang hingga saat ini masih dilakukan bagi masyarakat Jawa yang memegang nilai tradisi kejawen.
Larung saji sebuah jenis upacara adat yang dilakukan masyarakat Jawa dipercaya sebagai bentuk ritual atas perwujudan rasa syukur kepada Yang maha Kuasa atas rezeki yang dilimpahkan kepada mereka.
Ritual upacara larung saji bisa ditemukan di beberapa daerah di Jawa sampai Madura, dalam pelaksanaan larung saji ini dilakukan dengan berbeda-beda.
Sebagian ada yang melakukan ritual ini pada hari Rabu di akhir bulan Saffar yang dipercaya sebagai hari turunnya bencana dan wabah penyakit. Masyarakat biasanya melarungkan atau menghanyutkan sesaji yang mereka siapkan terdiri dari hasil bumi.
Baca juga:
Ini Respons Aswaja NU Jatim Soal Sesajen di SemeruMakasarSalah satu adat Tuturangiana Andala atau memberi sesajen kepada penguasa laut dilakukan masyarakat pulau Makasar, ritual ini sebagai salah satu tradisi masyarakat Pulau Makasar sebelum melakukan aktivitas di laut yang diawali dengan Tuturangiana Andala.
Ritual memberi sesajen ini dilakukan dengan tujuan agar pintu rezeki terbuka, sekaligus memberikan sedekah makanan kepada binatang laut.
(sof)