Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home masjid detail berita

Bagaimana Sikap Muslim Saat Temukan Sesajen? Ini Kata Ulama

fajar adhitya Senin, 17 Januari 2022 - 17:15 WIB
Bagaimana Sikap Muslim Saat Temukan Sesajen? Ini Kata Ulama
Ilustrasi. Foto: Langit7/iStock.
LANGIT7.ID, Jakarta - Umat Islam perlu menyikapi adat dan tradisi yang tumbuh di masyarakat secara arif dan bijaksana. Dalam kehidupan sosial dan budaya, ada tradisi yang sejalan dan ada yang bertentangan dengan Islam.

Pembina Dewan Da'wah KH Didin Hafidhuddin mengatakan, sesajen adalah salah satu adat yang bertentangan dengan syariat Islam. Sesajen umumnya berhubungan dengan keyakinan ada kekuatan lain selain Allah.

"Hal itu jelas termasuk perbuatan syirik," kata Kiai Didin dalam kajian keislaman bertema 'Menguatkan Visi Misi Hidup Muslim', dikutip Senin (17/1/2022).

Baca Juga: 5 Tema Khutbah Jumat tentang Urgensi Tauhid bagi Muslim

"Kita umat muslim tidak boleh terlibat dalam kegiatan sesajen seperti itu," imbuhnya.

Adapun dalam menyikapi sesajen, seorang muslim perlu meluruskan dan berdakwah dengan cara hikmah. Pada sisi lain, pemerintah perlu ikut bertanggung jawab untuk menjaga aqidah masyarakat.

"Jika penganut agama lain yang berbuat syirik, kita memberikan dakwah cara yang baik. Kita tidak boleh mencaci tuhan atau sesembahan orang syirik itu," jelasnya.

Sementara, dosen Filsafat UGM yang menggeluti budaya kearifan lokal, Dr Sartini, mengatakan bahwa sesajen merupakan tradisi kuno yang tumbuh di masyarakat. Kemunculannya jauh sebelum masuknya agama Hindu, Budha, dan Islam.

Baca Juga: Mengenal Budaya Bosara Nampan dan Tarian Khas Suku Bugis Makassar

Ia menerangkan, tradisi sesajen sering diartikan sebagai bentuk persembahan baik kepada Tuhan, dewa, roh leluhur, atau nenek moyang, dan makhluk yang tidak kelihatan. Menurut dia, tradisi ini sudah ada sejak sebelum Islam masuk, bahkan sebelum adanya agama Hindu dan Budha.

“Sesaji biasanya dikaitkan dengan ritual yang diadakan untuk tujuan tertentu. Oleh karenanya, benda-benda yang disiapkan untuk tiap sesaji dapat berbeda-beda. Masing-masing unsur dalam sesaji mempunyai filosofinya sendiri,” kata Sartini dilansir laman UGM, Senin.

Ia menjelaskan, pada masyarakar Jawa, sesaji disebut uborampe atau kelengkapan. Sementara di Lumajang, bila itu sebagai tradisi masyarakat setempat, mungkin saja orang yang melakukan sesaji menganggap Semeru sebagai “makhluk” yang memiliki kekuatan.

Baca Juga: Bagaimana Hukum Makan Sesajen, Ini Pendapat Buya Yahya

“Dalam konteks sekarang, tentu di sana termuat permohonan kepada Tuhan agar mereka diberi keselamatan. Perlu penelitian khusus untuk mengkaji fenomena ini,” ujarnya.

Menurut pemahaman Sartini, di tanah air kepercayaan tentang animisme dan dinamisme merupakan paham yang meyakini adanya roh yang hidup bersama manusia di alam semesta ini. Roh itu berupa roh orang yang sudah meninggal dunia, nenek moyang atau leluhur.

Bagian-bagian dari alam, benda, tumbuhan atau hewan juga sering dianggap mempunyai roh dan mempunyai kekuatan besar, maka gunung atau laut dianggap harus dihormati keberadaannya. “Sebagian kepercayaan ini mungkin masih ada di bumi Nusantara," katanya.

Baca Juga: Menag: Terlalu Beresiko Jika Kebijakan Satu Pintu Dicabut

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)