LANGIT7.ID - , Jakarta - Indonesia adalah salah satu negara yang rentan dengan bencana gempa. Pasalnya Indonesia terletak di jalur lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik.
Seperti gempa magnitudo 6,6 di Pandeglang, Banten yang mengakibatkan ribuan rumah rusak. Memahami kondisi geografis ini, sudah semestinya masyarakat Indonesia paham akan kontruksi dan pondasi bangunan yang aman saat gempa.
Baca juga: Tengok 8 Cara Mendekorasi Rumah Seorang MuslimMantan Sekretaris Jenderal Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ariko Andikabina mengatakan jika ingin membangun rumah hal paling utama yang harus diperhatikan yakni besinya.
"Jika ingin membangun rumah menggunakan bata, batu atau semen dan segala macam yang menjadi penting yaitu pembesian." kata Ariko saat dihubungi Langit7, Jumat (21/1/2022).
Selain itu, semen berkualitas tinggi juga menjadi hal penting lain yang harus diperhatikan saat membangun rumah.
"Kemudian, menggunakan semen murah akan mengurangi mutu beton. Beton itu karakternya menanggung beban vertikal. Semakin baik kualitas beton, maka semakin bagus tetapi yang menanggung beton itu adalah pembesiannya," lanjutnya.
Ariko mengatakan gempa bekerja dengan gaya horizontal, sementara rumah batu hanya mampu menanggung beban vertikal dari atas ke bawah. Sedangkan beban horizontalnya, batu tidak ada yang menanggung, maka di situlah pembesian menjadi penting.
"Dalam pengamatan saya, yang sering terjadi di Indonesia mereka mengabaikan besi." ujar Ariko.
"Jadi kalau konstruksi bata itu yang menanggung beban kolom-kolom beton. Nah dalam kolom-kolom beton itu ada besinya yang seringkali diabaikan atau dinomorduakan makanya tidak heran banyak sekali rumah batu di Indonesia rubuh dan sering kali saya lihat penyebabnya adalah pembesiannya," imbuhnya.
Baca juga: Bingung Waktu yang Tepat untuk Pindah Rumah? Ini Kata Buya YahyaAriko bahkan menjumpai pembesian yang digunakan bukan yang standar. Misalnya untuk tiang itu menggunakan besi 12 seringkali yang dipasang itu besi 6.
"Kalau jarak gelang besi atau kita sebutnya begel, jarak idealnya 15 cm seringkali ditaruhnya 30 centi. Akibatnya ketika ada gempa beban horizontal tidak ada yang nanggung karena bata itu tidak bisa menanggung beban horizontal, akibatnya rumah menjadi ambruk," tutupnya.
(est)