LANGIT7.ID - , Jakarta - Bangunan Indonesia masih rentan terhadap gempa. Hal ini terlihat dari banyaknya rumah atau bangunan yang rusak parah akibat gempa yang melanda Indonesia termasuk ketika di Cianjur, Jawa Barat pada Senin 21 November lalu.
Mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Arsitektur Indonesia Nasional,
Ariko Andikabina mengajak masyarakat untuk mencontoh Jepang dalam membuat sebuah bangunan. Alasannya kasus-kasus
gempa di Jepang tidak menimbulkan kerusakan parah pada bangunan.
Baca juga: Bergoyang Ikuti Arah Guncangan, Alasan Rumah Kayu dan Bambu Tahan GempaMenurut Ariko, masyarakat Jepang mempunyai kedisplinan dalam menerapkan standar pembangunan properti. Sementara hal tersebut belum ada di masyarakat Indonesia yang cenderung membangun rumah tanpa standar baku.
"Itu yang tidak ada dari kita. Jadi kalau bikin rumah itu tidak bisa sembarangan. Di kita (Indonesia) basisnya itu reka-rekaan, bukan basis berdasarkan standar. Kalau Jepang semua rumah dihitung secara baik mengikuti standar," ujar Ariko kepada Langit7, Senin (28/11/2022).
Di samping itu, lanjut Ariko, Jepang masih mempertahankan rumah-rumah tradisional yang berbasis kayu atau disebut
konstruksi kering. Jenis konstruksi ini cenderung lebih tahan gempa, sebab sambungannya memungkinkan ikut bergoyang sehingga tidak mudah roboh.
"Kalau kita kan tidak. Gaya hidupnya sudah berubah jadi semua rumah batu. Sepertinya kalau rumah batu berarti sudah sejahtera, sementara rumah kayu tidak sejahtera," katanya.
Baca juga: Tips Membangun Rumah Tahan Gempa, Bisa Manfaatkan Bahan Dari Alam"Ini masalah persepsi. Pokoknya rumah harus bata tidak bisa lagi rumah kayu karena itu dianggap pra sejahtera. Terus karena kemampuan finansialnya mempengaruhi, sebab rumah batu butuh biaya lumayan, akhirnya ya sekedarnya saja. Dan sudah pasti tidak ada arsitek, sudah pasti tidak ada insinyur sipil. Basisnya ya sudah kira-kira saja," imbuh Ariko.
Padahal, menurut dia semua harus memiliki kaidah tidak bisa sembarangan. Bahkan dalam menyusun bata pun harus terdapat kaidah.
"Kalau batanya tidak disusun secara teratur, itu akan rentan terhadap patahan ketika gempa," cetusnya.
Baca juga: Langkah-Langkah Bangun Rumah Tahan Gempa, Sederhana tapi Kokoh(est)