LANGIT7.ID, Jakarta - Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Erwin Rommel, memberikan tips membuat
rumah tahan gempa. Tips tersebut bisa digunakan untuk masyarakat yang tinggal di daerah rawan
gempa.
Menurut Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kampus (BP2K) UMM itu ada beberapa hal yang membuat banyak bangunan roboh saat gempa mengguncang Cianjur, Jawa Barat pada Senin (21/11/2022) lalu. Di antaranya, posisi pusat gempa, jenis patahan, kondisi lapisan tanah, serta kondisi bangunan.
Pusat gempa Cianjur berada di jalur sesar Cimandiri dengan kedalaman kurang dari 10 km. Itu masuk dalam kategori dangkal. Selain dekat dengan pusat gempa, karakteristik tanah di daerah Cianjur relatif cukup labil.
Baca Juga: Dampak Gempa Cianjur Sangat Parah Sebab Episentrum Dekat Pemukiman Warga
Hal tersebut terlihat dari topografi tanah di Cianjur yang berupa lereng-lereng bukit dan pegunungan. Kondisi tersebut, menyebabkan tanah menjadi rawan longsor jika terjadi gempa.
Erwin menjelaskan, sebagian besar bangunan yang berdiri di daerah Cianjur merupakan bangunan rendah dan bangunan sederhana. Bangunan itu belum memenuhi kaidah rumah tahan gempa.
“Kebanyakan masyarakat awam beranggapan, gempa yang terjadi lebih berdampak signifikan pada bangunan tinggi saja. Nyatanya bencana gempa bisa mengakibatkan kerusakan pada semua bangunan, baik rumah tinggal maupun Gedung-gedung bertingkat,” katanya, dikutip laman resmi Muhammadiyah, Senin (28/11/2022).
Baca Juga: Langkah-Langkah Bangun Rumah Tahan Gempa, Sederhana tapi Kokoh
Tips Membangun Rumah Tahan GempaErwin mengatakan, untuk membangun rumah sederhana tahan gempa ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Di antaranya:
1. Membuat bangunan dengan bentuk sesimetris mungkin
2. Cukup tersedianya pengaku pada dinding. Minimal setiap 12 meter persegi luasan dinding harus diberikan kolom dan balok praktis
3. Memberi pengangkuran yang cukup pada setiap sambungan elemen pada bangunan. Misalnya, sambungan dari dinding ke balok pondasi, sambungan dinding ke kolom, ataupun sambungan balik ke konstruksi atap.
Ada beberapa model bangunan sederhana tahan gempa sudah dikenalkan kepada masyarakat oleh Puskim, Balitbang, dan PUPR. Di antaranya, rumah sederhana tahan gempa berbahan bayu, bambu, dan beton.
Baca Juga: CEO Katama: Konstruksi Ramah Gempa Harus jadi Prioritas
“Spesifikasi utama yang harus dipenuhi agar rumah tahan gempa yakni adanya integritas bangunan,” ujar Erwin.
Rumah tahan gempa dapat tercipta jika seluruh elemen-elemen dari bangunan mulai dari pondasi, balok, sloof, kolom, dinding, serta balok atau tersambung dengan baik dan benar.
Selain itu, perlu adanya penyalur beban dari satu elemen ke elemen lain agar bangunan tidak mudah runtuh dan dapat menahan beban gampa. Dalam realisasinya, pembuatan rumah tahan gempa memang membutuhkan biaya lebih mahal dibanding rumah pada umumnya.
Tapi, hal itu bisa disiasati dengan penggunaan bahan-bahan bangunan yang tersedia di sekitar lingkungan tempat tinggal. Masyarakat bisa menggunakan bambu atau rotan sebagai pengganti tulangan baja. Selain itu, penggunaan kayu juga bisa menjadi alternatif bahan pengganti lainnya.
“Intinya, konsep pembangunan rumah tahan gempa adalah membuat bangunan menjadi lebih ringan, lebih daktail, dan adanya penyaluran beban dari setiap elemennya sampai ke pondasi. Jika kita bisa memanfaatkan kekayaan alam sebagai pengganti bahan bangunan, maka rumah tinggal tahan gempa bisa menjadi lebih rumah dan terjangkau di masyarakat,” ujar Erwin.Juga
Baca Juga: Rumah Tradisional Cenderung Tahan Gempa, Ini Penjelasan Ahli
Dalam pembangunan rumah tahan gempa, ada pula tips lain yang bisa diikuti. Salah satunya, mengetahui perkembangan kondisi patahan atau sesar yang ada disekitar tempat tinggal.
Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memahami tingkat kerawanan gempa pada desain bangunan kita agar bisa lebih siap. Selanjutnya, pemberian edukasi kepada masyarakat tentang mitigasi dan penyelamatan korban.
“Perlu adanya edukasi kepada masyarakat tentang antisipasi dan mitigasi ketika terjadi gempa bumi. Selain itu, pemerintah daerah dan pusat bisa melakukan pemetaan dan relokasi secara menyeluruh terhadap bangunan-bangunan yang telah berdiri. Utamanya terhadap bangunan yang berada di daerah jalur sesar dan juga yang berpotensi untuk menjadi sesar aktif di kemudian hari,” ujarnya.
(jqf)