LANGIT7.ID - Saturasi oksigen menjadi istilah yang kerap didengar pada masa pandemi. Ini adalah ukuran kandungan oksigen dalam tubuh seseorang.
Meraka yang positif Covid-19 krusial memiliki oksimetri nadi (pulse oximeter) saat menjalani masa isolasi mandiri. Tujuannya agar ia bisa mengukur saturasi oksigennya di rumah.
Saturasi oksigen sangat perlu dipantau mengingat sebagian orang yang terkena Covid-19 berisiko mengalami hipoksia tanpa merasakan gejala sesak napas atau disebut happy hypoxia. Pasalnya, meski tanpa gejala sesak, kekurangan oksigen tetap berujung fatal.
Seperti dilansir
WebMD, hipoksia merupakan kondisi di mana jaringan tubuh tidak mendapatkan asupan oksigen karena darah tidak membawa cukup oksigen.
Hipoksia merupakan kondisi yang berbahaya karena organ-organ penting malfungsi dan mengalami kerusakan tanpa pasokan oksigen yang cukup. Kerusakan ini bisa terjadi hanya dalam waktu satu menit setelah sesak napas muncul sebagai gejala hipoksia.
Saturasi oksigen yang normal berkisar di angka 95 hingga 100 persen. Akan tetapi, penafsiran saturasi oksigen pun akan sangat bergantung pada kondisi tiap individu.
"(Sebagai contoh) orang yang perokok mengalami penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) mungkin 92 hingga 93 masih 'normal'.
Namun saturasi oksigen di bawah 95 persen pada orang normal telah menunjukkan ada masalah. Sementara saturasi oksigen di bawah 90 persen adalah masalah terlepas dari kondisi pasien seorang perokok atau bukan perokok.
(arp)