LANGIT7.ID - Founder Al-Fahmu Institute, Ustadz Fahmi Salim, mengatakan, Islam sudah menawarkan solusi dalam menerima informasi hingga menghadapi berbagai perbedaan pendapat di tengah masyarakat. Termasuk dalam menyikapi perbedaan pendapat dan informasi tentang wabah Covid-19 yang banyak bertebaran di media sosial.
Dia menjabarkan dua langkah dalam menyikapi wabah corona maupun arus informasi di tengah pandemi.
1. Berlaku AdilSeseorang harus berbuat adil dalam menyikapi pandemi. Dia mengutip Surah Al-Maidah ayat 8, Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Allah menyampaikan kaidah dalam ayat tersebut saat menghadapi gempuran informasi. Dia menyebut arus informasi saat ini sudah sangat deras, tidak jelas lagi mana narasi agama, narasi medis, hingga narasi politik. Semua bercampur dan sumbernya tidak jelas.
“Maka itu, kita harus pandai-pandai memilah, mana bagian politik, mana bagian agama, mana bagian sains. Urusan kritik terhadap kebijakan politik pemerintah, itu biarlah para politisi dan aktivis yang berbicara. Ketika berbicara soal medis apalagi soal pandemi, ada ilmu khusus, ada epidemiologi, ada vaksinologi, ada virologi, maka tempatkanlah ini pada tempatnya pada porsinya,” kata Ustadz Fahmi dalam acara “Bentengi Diri di Masa Pandemi dengan Protokol Langit dan Bumi” yang digelar MIUMI dan disiarkan melalui kanal Youtube AQL Islamic Center, Kamis malam (22/7/2021).
Dia menegaskan, tidak boleh kebencian pada satu kelompok menjerumuskan kita pada perbuatan tidak adil. Adil adalah menempatkan sesuatu pada pada tempat atau sesuai proporsinya. Maka itu, seseorang harus bersikap adil dalam menyikapi pandemi saat ini.
“Adil itu lebih dekat kepada ketakwaan. Semua perkara itu simpulnya adalah untuk membentuk karakter kita menjadi manusia hamba Allah yang bertakwa kepada Allah SWT,” ucap beliau.
2. TabayyunTatsabbut atau
Tabayyun sangat dibutuhkan di zaman yang penuh fitnah ini. Allah SWT telah memerintahkan kita untuk tabayyun:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasiq dengan membawa berita, maka periksalah dahulu dengan teliti, agar kalian tidak menuduh suatu kaum dengan kebodohan, lalu kalian menyesal akibat perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al Hujurat : 6).
Ustadz Fahmi Salim menegaskan, ayat di atas merupakan perintah untuk mengklarifikasi setiap berita yang didapat. Baik dari media sosial maupun informasi dari mulut ke mulut di tengah masyarakat. Maka itu, ketika mendapatkan informasi terkait wabah corona, maka terlebih dahulu memperjelas sumber dan menanyakan kepada ahli medis.
“Harus cek dulu, jangan terima bulat-bulat. Ini adalah persoalan keilmuan yang menyangkut hal sangat esensial dan fundamental dalam kehidupan masyarakat. Apalagi itu berkaitan dengan tujuan syariat Islam, yakni menjaga agama, menjaga nyawa (keselamatan), menjaga harta, menjaga akal pikiran agar sehat, menjaga reproduksi,” ucap dia.
Jika tidak berhati-hati dalam mengamalkan ini, maka seseorang bisa merusak agama dan akal pikiran dengan berbagai macam hoaks. Menjamurkan informasi itu seperti pandemi, bercampur antara yang haq dan yang batil. Di zaman dimana semua orang bisa membuat
broadcast atau pesan berantai lalu disebarluaskan, kita harus amat berhati-hati.
“Kita harus bertanya kepada yang ahlinya. Maka itu tabayyun. Sebab, kalau kita tidak tabayyun maka nanti kita akan menyesal,” kata beliau.
Dia khawatir jika seseorang langsung membenarkan informasi dengan sumber tidak jelas pasti akan menyesal di kemudian hari. Orang itu sudah dipastikan tidak akan lolos tauhid sosialnya. Jika tauhid sosial itu tidak lolos, maka bisa saja mencelakakan orang lain. Misalnya, ada orang yang tidak mau menerapkan protokol kesehatan gara-gara informasi yang kita sebarkan.
“Maka kita turut menanggung dosa menyebarkan berita tidak benar, lalu diyakini banyak orang. Arus informasi itu sudah seperti air bah. Banjir bah di media sosial itu itu sudah bercampur antara yang hak dan batil. Saya khawatir kita menanggung dosa ketika ada saudara-saudara kita sakit karena mengabaikan protokol kesehatan,” ucap dia.
Oleh karena itu, Ustadz Fahmi mengingatkan untuk lebih berhati-hati dalam memilah informasi melalui media sosial. Setiap masalah lebih dikembalikan kepada orang yang ahli. Dalam bidang keagamaan, sudah ada Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam bidang kesehatan, sudah ada Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Semua konsensus yang dihasilkan dari otoritas tersebut memiliki kekuatan yang sangat kuat. Maka, semua masalah agama atau pun medis harus merujuk kepada otoritas yang konsen dalam bidang tersebut. Mengikuti hasil konsensus otoritas para ilmuwan juga sejalan dengan perintah Allah SWT dalam surah An-Nisa ayat 115.
Dalam surah itu disebutkan bahwa mengikuti ijma’ ulama itu adalah jalan orang beriman. Ini berlaku juga ke seluruh disiplin keilmuan. Ketika para pakar kesehatan membahas suatu masalah dan sampai pada satu kesimpulan, maka itu harus diikuti.
“Mengikuti jalan orang beriman adalah ciri orang beriman. Yang tidak mengikuti, itu dikecam oleh Allah dengan kehancuran dan kebinasaan. Berat konsekuensinya. Maka itu mari kita beragama jangan
qila wa qala. Tidak tempatnya kita bersempatnya bersikap seperti itu, menerima
qila wa qala. Kembalikan kepada otoritas,” ucap beliau.
(jqf)