LANGIT7.ID, Jakarta - Jurnalis senior sekaligus penulis buku "Chairul Tanjung, Si Anak Singkong", Tjahja Gunawan Diredja, menyampaikan kondisinya terkini di perjalanan menuju Makkah dengan bersepeda. Ia mengatakan, terdapat banyak hikmah perjalanan meskipun ia dan temannya, Muhammad Fuad belum bisa menyebrang ke Malaysia.
"Saat ini saya belum bisa menyebrang ke Malaysia karena belum dibuka aksesnya. Sambil menunggu informasi dibukanya kembali Malaysia, saya ke Aceh kemudian ke Sabang" kata Tjahja Gunawan kepada Langit7, Rabu (2/2/2022) pagi melalui sambungan telepon.
"Sepeda saya rusak dan hanya ada bengkelnya di Medan, jadi saya ke Aceh naik bis," ungkap Tjahja Gunawan.
Baca Juga: Cerita Tjahja Gunawan, Pernah Diberhentikan dan Dimintakan DoaTjahja mengatakan selama kurang lebih seminggu di Aceh, ia dapat bertemu dengan banyak orang dan berbagi pengalaman selama di perjalanan. Bahkan ia sempat diundang ke sebuah stasiun radio untuk menceritakan pengalaman perjalanan naik sepeda selama 40 hari dari Tangerang Selatan ke Medan dan Aceh.
"Selain berbagi cerita, saya juga ziarah ke makam-makam ulama di Aceh, di antaranya ke Makam Syiah Kuala dan makam para auliya yang lain. Saya juga berkesempatan mengunjungi Masjid Raya Baiturahman Aceh," ujarnya.
Menurut dia, masjid tersebut memiliki magnet tersendiri, terutama karena banyaknya cerita hikmah yang muncul pascakejadian tsunami. Salah satu cerita yang populer, yaitu ada seorang warga keturunan China yang tinggal di Aceh menjadi mualaf karena kasus tsunami. Pada waktu tsunami itu dia melihat orang tinggi besar berjubah putih, menjaga masjid Baiturahman dari terjangan air tsunami.
"Semua masjid punya magnet tersendiri, oleh karena itu kita diseru untuk kembali ke masjid. Masjid itu bukan diartikan tempat shalat saja, tetapi masjid merupakan pusat peradaban. Menurut saya semua kegiatan ekonomi dan sosial itu pusatnya di masjid," tutur Tjahja Gunawan.
Baca Juga: Tjahja Gunawan: Tujuan Kami Bukan Saja Makkah, Tapi Juga Tadabur AlamIa mengatakan, selain digunakan untuk ibadah shalat, Masjid Baiturrahman juga digunakan sebagai pusat kegiatan umat. Ada kegiatan ekonomi, kegiatan remaja, kegiatan dakwah, kegiatan sosial, dan sebagainya.
"Itulah mengapa masjid itu kemudian sampai dijaga pada saat tsunami, padahal seluruh daerah di sekitaran masjid tersebut rusak semua," katanya.
Tjahja mengungkapkan bahwa ia sebetulnya memang berniat berkunjung terlebih dulu ke Serambi Makkah sebelum ke Makkah. Ia bersyukur niatnya tersebut dapat terlaksana. Selain ke Aceh, ia juga menyempatkan berkunjung ke Pulau Weh di Sabang. Pulau Weh dapat ditempuh kurang lebih selama satu jam menyebrangi laut.
"Daerah tersebut betul-betul membuat kita semakin takjub dengan alam ciptaan Allah. Semua lengkap di sana, air pantainya jernih, ada pegunungan, ada air panas, dan juga ada air terjun di sana," ujar Tjahja Gunawan.
"Boleh dibilang surga dunia juga tempat ini," imbuhnya.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Destinasi Air Terjun Mempesona di Bali(zhd)