LANGIT7.ID, Jakarta - Di kalangan para habib, ada tradisi mengkhatamkan Kitab
Shahih Al-Bukhari selama bulan Rajab. Di Pasuruan, Malang, Surabaya, Gresik, Pekalongan, Solo, dan kota-kota lain, tradisi ini sudah berlangsung sejak dulu, dari generasi ke generasi.
Menurut Habib Salim bin Abdullah bin Umar asy-Syathiri, tradisi pembacaan Kitab Shahih Bukhari atau Khataman Bukhari di kalangan Alawiyin dimulai dari Kota Zabid, Yaman. Semenjak ratusan tahun lalu, para habib telah melakukan tradisi ini pada bulan Rajab.
Tradisi Khataman Bukhari di bulan Rajab kemudian dibawa para habib ke Nusantara secara turun-menurun, misalnya di Pasuruan. Tradisi ini telah berlangsung sejak Habib Ja'far bin Syaikhon Assegaf dan masih berlangsung hingga sekarang.
Di Gresik, tradisi ini berlangsung sejak Habib Abu Bakar Assegaf, dan diteruskan oleh anak dan cucunya hingga sekarang. Di kota-kota tertentu di Indonesia, pembacaan tidak hanya berlangsung di satu tempat. Di Pasuruan, selain di petilasan Habib Ja'far juga berlangsung di Pondok Sunniyah Salafiyah di Sungi Kecamatan Kraton, di Pondok Putri Sunniyah Salafiyah.
Di Jakarta, Majelis Kwitang Habib Ali Al Habsyi termasuk di antara majelis yang rutin melaksanakan tradisi ini, begitu pun murid-murid Habib Ali Ali Al Habsyi. Mereka melaksanakan di majelis-majelis mereka, sehingga tradisi Khataman Bukhari semakin luas di Jabodetabek.
Khataman Bukhari biasanya dilakukan berjamaah dengan cara duduk melingkar dan membaca bergiliran (Rauhah) setiap hari sampai khatam di penghujung bulan Rajab. Terkadang diselingi dengan tausiah singkat tentang hadits-hadits tertentu.
"Hari terakhir pembacaan atau ketika khatam, biasanya diumumkan dan mengundang khalayak di mana pada akhir acara ditutup dengan ramah tamah dan makan bersama untuk mempererat silaturahmi," terang Habib Ahmad bin Novel Jindan dikutip akun Majelis Hikmah Alawiyin, dikutip Kamis (3/2/2022).
Mengapa Khataman Bukhari Dilaksanakan di Bulan Rajab?
Ada hubungan erat antara kaum alawiyin dengan para pemuka agama dari Bani Al Ahdal yang menetap di Kota Zabid, Yaman Utara. Sebab, tatkala kakek mereka, Imam Ahmad Al Muhadjir hijrah dari Basrah ke Yaman, turut pula kakek atau leluhur dari Bani Al Ahdal.
Saat sampai di zabid, leluhur Bani Al Ahdal ini menetap swdangkan Imam Ahmad Al Muhadjir meneruskan perjalanan hingga ke Hadramaut di Yaman Selatan.
Alawiyin pada masa berikutnya banyak berdatangan ke kota Zabid untuk menuntut ilmu hadits. Rujukan mereka di dalam periwayatan hadits di antaranya Muhadits Al Yaman Al Imam Abdurrahman bin Sulaiman bin Yahya bin Umar Al Ahdal.
Tradisi pembacaan Khatam Bukhari mulai dilakukan di Kota Zabid, di mana banyak kaum Alawiyin menuntut ilmu hadits di kota tersebut.
Ada dua alasan khusus tradisi ini digelar pada Bulan Rajab.
Pertama, karena mayoritas yang ada di Yaman itu banyak dari mereka itu adalah ahli hadits, sehingga Kitab Shahih Bukhari dititikberatkan oleh mereka.
Kedua, Mu'adz bin Jabal RA dan para sahabat membawa Islam ke Yaman bertepatan bulan Rajab. Sehingga bagi masyarakat Yaman, Bulan Rajab memiliki keistimewaan tersendiri. Di bulan Rajab ini mereka bergembira dan merayakan waktu di mana Islam masuk pertama kali ke negeri mereka.
(jqf)