LANGIT7.ID, Jakarta - Rajab berasal dari lafafdz “At tarjib” yang berarti keagungan atau kemurnian. Rajab juga dapat diartikan sebagai Al Ashab atau curahan yang bermakna rahmat Allah tercurah untuk orang-orang yang bertaubat dan memperbanyak istighfar pada bulan Rajab.
Selain itu, Rajab juga dapat berarti Al Asham (tuli). Maksud dari kata ini ini adalah pada zaman Rasulullah bila datang bulan Rajab, maka tidak didengar lagi suara gemerincing perang. Itulah mengapa Rajab disebut juga sebagai bulan Haram.
Dilkutip Buku "Menuai Amal Sepanjang Masa", arti lain dari bulan Rajab ialah singkatan dari rahmat, dim, singkatan dari
jurmul abdi wajinayatuhu (dosa dan pelanggaran seorang hamba. Sedangkan ba mengandung makna birullah yang artinya kebaikan Allah.
Baca Juga: KH Ma’ruf Khozin Beberkan Pandangan 4 Mazhab soal Puasa RajabHal ini seakan-akan Allah menyatakan bahwa Ia menjadikan dosa para hamba-Nya di antara rahmat dan kebaikan-Nya. Begitu murahnya Allah dalam mengampuni kesalahan para hamba-hambaNya yang berbuat dosa selama mau bertaubat.
Rajab adalah salah satu nama sungai di surga yang airnya lebih putih daripada susu. Lebih manis dari madu, dan lebih dingin daripada es. Sungai tersebut diperuntukkan bagi orang yang berpusa di bulan Rajab. Mereka berhak mendapat keridhaan Allah.
Baca Juga: Mimbar Masjid: Podium Ceramah Hingga Simbol Otoritas NegaraSementara, Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin mengingatkan agar berhati-hati terhadap hadits palsu seputar puasa Rajab. Banyak hadits palsu berseliweran yang menjelaskan keutamaan Rajab.
“Jangan langsung meyakini hadis-hadis palsu tersebut, pastikan setiap hadis ada nama perawi dari Sahabat dan perawi akhir yang menjadi kitab induk hadis,” katanya dikutip akun Facebooknya, Ahad (6/2/2022).
Baca Juga: Tahajud dan Shalat Subuh Bermanfaat Jaga Kesehatan(zhd)