LANGIT7.ID, Jakarta - Pondok Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan pilihan terbaik untuk anak. Orang tua yang memiliki kesibukan atau pun tak punya dasar ilmu agama bisa bekerja sama dengan pesantren untuk tumbuh kembang anak.
Anggota Divisi Pembinaan Keluarga Majelis Tabligh PP 'Aisyiyah, Dr. Hibana Yusuf, menjelaskan, sekolah umum maupun pesantren memberi banyak nilai positif yang berguna bagi kehidupan anak. Tapi, pesantren memiliki poin plus dalam memberikan pendidikan akhlak bagi anak.
"Menuntut ilmu di sekolah biasa, madrasah, atau pesantren, mungkin terlihat sama saja. Namun, dalam mendidik akhlak anak, sebagian besar orang tua tidak ragu menitipkan anaknya ke pesantren untuk menuntut ilmu agama," ujar Hibana, dikutip kanal
YouTube haibunda, Senin (14/2/2022).
Hibana menyebut ada empat keuntungan menyekolahkan anak ke pesantren.
Pertama, tekun belajar agama. Pola pendidikan khas pesantren memungkinkan anak mengetahui dan mempraktikkan pelajaran agama dengan lebih baik.
Mulai dari bangun tidur hingga akan tidur lagi, seorang santri memperoleh tausiah, shalat berjamaah, dan selalu dekat dengan Al-Qur'an. Ini poin penting yang tidak ditemukan di sekolah-sekolah umum.
Kedua, membentuk akhlak berkualitas. Pola pendidikan di pesantren sangat menjaga kualitas akhlak, tak heran jika seorang santri sangat menghormati para guru dan pihak-pihak yang membantu proses pendidikannya.
Akhlak anak akan lebih terjaga. Sebab, poin itu sangat dikuatkan dan ditekankan dalam pendidikan pondok pesantren. Misalnya, dalam perkara berbakti kepada orang tua. Santri selalu diajak untuk menghormati orang tua.
Ketiga, mandiri sejak dini. Seorang santri akan tinggal dan belajar di asrama selama menempuh pendidikan. Dengan pola ini, santri akan belajar mandiri dan bekerja sama dengan teman-temannya. Kondisi ini berbeda dengan kehidupan anak di rumah, yang mungkin selalu dibantu orang tua.
Keempat, tak asing dengan tanggung jawab. Keuntungan lain yakni membantu anak belajar tanggung jawab. Hidup mandiri memungkinkan anak menanggung sendiri dampak dari keputusan dan perbuatannya. Maka itu, anak tentu tak bisa minta bantuan orang tua selama proses pendidikan.
(jqf)