LANGIT7.ID, Jakarta - Belakangan istilah
self healing, self reward, dan
work life balance banyak digunakan oleh kaum muda. Anak-anak muda ini banyak yang mengaku bahwa dirinya mengalami depresi, gangguan mental, hingga
quarter life crisis dan lainnya.
Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen, Rhenald Kasali coba menganalisis mengapa persoalan tersebut timbul, menurutnya ada 4 hal yang perlu dipahami, terutama bagi generasi muda.
“Kami coba mempelajari sebagai seorang pendidik tentu saya sangat berkepentingan terhadap kesehatan mental kaum muda. Saya kira ada empat hal yang perlu kita pahami bersama,” ujar Rhenald dalam tayangan video di kanal YouTube miliknya yang dilansir Langit7, Selasa (22/2/2022).
Baca juga: Ajarkan Anak Arti Kegagalan sebagai Proses PembelajaranMenurut Rhenald Kasali ada 4 hal yang perlu dipahami antara lain:
Self DiagnosisMenurut Rhenald saat ini banyak generasi muda begitu luar biasa, mereka merasa bahwa dirinya mandiri, dan serba tahu dengan keberadaan sosial media.
“Jadi terpapar beragam informasi di media sosial terutama dengan kata-kata yang begitu populer, setelah itu mereka cocokan dirinya dengan apa yang dikatakan sosial media, karena cocok kemudian mengatakan saya butuh
healing,” ungkapnya.
Kendati demikian, menurut dia
self healing tidaklah sesederhana dengan apa yang diucapkan. Healing adalah sebuah proses yang diperlukan untuk mengatasi sebuah luka psikologis di masa lalu.
“Kita sering kali menyebutnya sebagai luka batin ada sebuah kejadian di masa lalu yang membekas dan tentu saja ada proses cara untuk penyembuhannya,” ungkapnya.
Menurut Rhenald, dengan proses penyembuhan tersebut mereka bisa menjalankan kehidupan dengan lebih baik di masa depan, jika dalam menjalani kehidupan dan mengalami banyak hal setiap harinya kemudian tidak bisa bekerja, dan berpikir mungkin ini ada hal-hal yang perlu diselesaikan dengan pihak lain.
“Sekarang ini banyak media sosial memberikan informasi yang sangat kaya sehingga kita merasa bisa memecahkan persoalan itu sendiri, ini adalah
self diagnosis tidak hanya terjadi pada kaum muda tetapi orang dewasa, dan orang tua juga,” katanya.
Menurutnya dengan mengandalkan google kemudian seseorang bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada dirinya.
“Pada akhirnya kemudian kaum muda mengalami
overthinking dan tidak bisa tidur seharian padahal begitu bertemu dokter hal tersebut adalah wajar dialami oleh anak-anak muda,” ungkapnya.
Menurut Rhenarld
overthinking dapat dialami oleh anak-anak muda sebagai
quarter life crisis di umur 25 tahun.
Baca juga: Wajarkah Bila Si Kecil Sering Berkata Tidak?Generasi Strawberry Menurut Rhenald kita menghadapi generasi baru yang disebut
the strawberry generation. Ini adalah sebuah generasi yang gampang rusak ketika menghadapi gesekan.
“
Strawberry generation ini bermula diamati ada di Taiwan ketika munculnya generasi baru yang ternyata begitu lunak seperti sebuah strawberry yang gampang rusak,” jelasnya.
Generasi
strawberry muncul tak lain karena orang tua mendidik dan membesarkan anak dalam situasi yang lebih sejahtera. Sehingga apapun yang diinginkan anak langsung dituruti orang tua.
“Tetapi kemudian ini berakibat dalam sejumlah hal, orang tua tidak pernah menghukum anak dari kesalahan yang dilakukannya dan berdampak anak tumbuh menjadi
strawberry generation. Narasi-narasi orang tua Selanjutnya, narasi-narasi orang tua yang kurang berpengetahuan, banyak orangtua sekarang bilang bahwa ‘anak saya
moody-an’, sehingga berakibat pada anaknya yang percaya dengan label tersebut, jadi setelah besar anak mengatakan dalam lingkungannya ‘bahwa saya orangya
moody-an’.
“Pada waktu saya kecil saya tidak pernah mendengar orang tua atau siapa pun yang mengatakan anaknya
moody, lain halnya dengan sekarang,” ujarnya.
Baca juga: Nikmati Kegagalan, Malah Sukses Kembangkan Bisnis Pertanian Lari dari kesulitan Banyak orang yang kemudian mengambil kesimpulan dengan lari dari kesulitan sehingga di depresi dan butuh
healing, menurut Rhenald kemenangan seseorang menjadi orang hebat adalah ketika dia bisa mengatur segalanya dengan baik.
“Jadi wajar jika misal kuliah banyak tugas dan menyita waktu. Lain halnya jika mereka mengatakan mereka depresi karena kuliah, ketika mengalami depresi artinya mereka sudah tidak bisa mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik jadi hati-hati dalam mengambil kesimpulan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Rhenald memberikan solusi bagi anak-anak muda untuk memperbaiki literasi, dan perlu diingat bahwa dunia baru ini kaya akan informasi, dan penjelasan-penjelasan sehingga perlu memvalidasi setiap kebenaran, dengan membaca buku atau informasi tambahan.
(sof)