Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home lifestyle muslim detail berita

Memahami Self Healing dan Kesehatan Mental, Apa Itu?

hasanah syakim Selasa, 22 Februari 2022 - 18:30 WIB
Memahami Self Healing dan Kesehatan Mental, Apa Itu?
ilustrasi (foto: LANGIT7.ID/ iStock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Belakangan istilah self healing, self reward, dan work life balance banyak digunakan oleh kaum muda. Anak-anak muda ini banyak yang mengaku bahwa dirinya mengalami depresi, gangguan mental, hingga quarter life crisis dan lainnya.

Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen, Rhenald Kasali coba menganalisis mengapa persoalan tersebut timbul, menurutnya ada 4 hal yang perlu dipahami, terutama bagi generasi muda.

“Kami coba mempelajari sebagai seorang pendidik tentu saya sangat berkepentingan terhadap kesehatan mental kaum muda. Saya kira ada empat hal yang perlu kita pahami bersama,” ujar Rhenald dalam tayangan video di kanal YouTube miliknya yang dilansir Langit7, Selasa (22/2/2022).

Baca juga: Ajarkan Anak Arti Kegagalan sebagai Proses Pembelajaran

Menurut Rhenald Kasali ada 4 hal yang perlu dipahami antara lain:

Self Diagnosis

Menurut Rhenald saat ini banyak generasi muda begitu luar biasa, mereka merasa bahwa dirinya mandiri, dan serba tahu dengan keberadaan sosial media.

“Jadi terpapar beragam informasi di media sosial terutama dengan kata-kata yang begitu populer, setelah itu mereka cocokan dirinya dengan apa yang dikatakan sosial media, karena cocok kemudian mengatakan saya butuh healing,” ungkapnya.

Kendati demikian, menurut dia self healing tidaklah sesederhana dengan apa yang diucapkan. Healing adalah sebuah proses yang diperlukan untuk mengatasi sebuah luka psikologis di masa lalu.

“Kita sering kali menyebutnya sebagai luka batin ada sebuah kejadian di masa lalu yang membekas dan tentu saja ada proses cara untuk penyembuhannya,” ungkapnya.

Menurut Rhenald, dengan proses penyembuhan tersebut mereka bisa menjalankan kehidupan dengan lebih baik di masa depan, jika dalam menjalani kehidupan dan mengalami banyak hal setiap harinya kemudian tidak bisa bekerja, dan berpikir mungkin ini ada hal-hal yang perlu diselesaikan dengan pihak lain.

“Sekarang ini banyak media sosial memberikan informasi yang sangat kaya sehingga kita merasa bisa memecahkan persoalan itu sendiri, ini adalah self diagnosis tidak hanya terjadi pada kaum muda tetapi orang dewasa, dan orang tua juga,” katanya.

Menurutnya dengan mengandalkan google kemudian seseorang bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada dirinya.

“Pada akhirnya kemudian kaum muda mengalami overthinking dan tidak bisa tidur seharian padahal begitu bertemu dokter hal tersebut adalah wajar dialami oleh anak-anak muda,” ungkapnya.

Menurut Rhenarld overthinking dapat dialami oleh anak-anak muda sebagai quarter life crisis di umur 25 tahun.

Baca juga: Wajarkah Bila Si Kecil Sering Berkata Tidak?

Generasi Strawberry

Menurut Rhenald kita menghadapi generasi baru yang disebut the strawberry generation. Ini adalah sebuah generasi yang gampang rusak ketika menghadapi gesekan.

Strawberry generation ini bermula diamati ada di Taiwan ketika munculnya generasi baru yang ternyata begitu lunak seperti sebuah strawberry yang gampang rusak,” jelasnya.

Generasi strawberry muncul tak lain karena orang tua mendidik dan membesarkan anak dalam situasi yang lebih sejahtera. Sehingga apapun yang diinginkan anak langsung dituruti orang tua.

“Tetapi kemudian ini berakibat dalam sejumlah hal, orang tua tidak pernah menghukum anak dari kesalahan yang dilakukannya dan berdampak anak tumbuh menjadi strawberry generation.

Narasi-narasi orang tua

Selanjutnya, narasi-narasi orang tua yang kurang berpengetahuan, banyak orangtua sekarang bilang bahwa ‘anak saya moody-an’, sehingga berakibat pada anaknya yang percaya dengan label tersebut, jadi setelah besar anak mengatakan dalam lingkungannya ‘bahwa saya orangya moody-an’.

“Pada waktu saya kecil saya tidak pernah mendengar orang tua atau siapa pun yang mengatakan anaknya moody, lain halnya dengan sekarang,” ujarnya.

Baca juga: Nikmati Kegagalan, Malah Sukses Kembangkan Bisnis Pertanian

Lari dari kesulitan

Banyak orang yang kemudian mengambil kesimpulan dengan lari dari kesulitan sehingga di depresi dan butuh healing, menurut Rhenald kemenangan seseorang menjadi orang hebat adalah ketika dia bisa mengatur segalanya dengan baik.

“Jadi wajar jika misal kuliah banyak tugas dan menyita waktu. Lain halnya jika mereka mengatakan mereka depresi karena kuliah, ketika mengalami depresi artinya mereka sudah tidak bisa mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik jadi hati-hati dalam mengambil kesimpulan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Rhenald memberikan solusi bagi anak-anak muda untuk memperbaiki literasi, dan perlu diingat bahwa dunia baru ini kaya akan informasi, dan penjelasan-penjelasan sehingga perlu memvalidasi setiap kebenaran, dengan membaca buku atau informasi tambahan.

(sof)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)