LANGIT7.ID, Jakarta - Nama Ibnu Hajar Al-Asqalani sangat masyhur di tengah para pelajar muslim. Ia menguasai banyak bidang ilmu, namun lebih dikenal sebagai seorang ahli hadits dari Mazhab Syafi'i.
Nama lengkap beliau adalah Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar, tetapi lebih dikenal sebagai Ibnu Hajar Al-Asqalani.
Dai kondang Ustadz Adi Hidayat (UAH) menceritakan, Ibnu Hajar merupakan nama pena. Ibnu berarti anak laki-laki, sementara hajar berarti batu dalam bahasa Arab. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "Anak Batu".
Baca juga: Makan Tak Terlalu Kenyang, Ciri Zuhud dan Tidak SerakahIbnu Hajar anak cerdas. Dia dilahirkan pada 773 H dan wafat pada 852 H. Mengenai tempat kelahiran, ada beberapa pendapat. Ada yang menyebut ia lahir di Kota Asqalan, Palestina. Versi lain menyebut lahir, besar, dan meninggal dunia di Mesir.
Ibnu Hajar tumbuh dan besar sebagai anak yatim piatu. Ayahnya meninggal dunia ketika berumur 4 tahun dan ibunya meninggal dunia ketika masih balita.
Hidup sebagai anak yatim piatu tidak mudah. Itu membuat jiwa Ibnu Hajar terguncang dan berpengaruh pada aktivitas belajar di sekolah. Sampai secara singkat ia kehilangan kekuatan ingatan.
“Sehingga ke kelas pun tidak nyambung, bahkan dalam taklim berat menangkap pelajaran. Bahkan, hal kecil sulit untuk dihafal. Itu karena ada beban di Kepala dan jiwa beliau,” kata UAH melalui kanal
YouTube-nya, dikutip Sabtu (5/3/2022).
Suatu ketika ia merasa frustasi dan memutuskan meninggalkan kelas. Begitu berjalan meratapi diri, Allah memberikan tanda. Hujan turun. Spontan, ia mencari tempat berteduh.
Dia memutuskan masuk ke dalam gua. Saat hujan mulai redah, beliau diam. Saat diam itulah dia mendengar suara percikan air yang menetes di atas batu. Pandangannya tertuju pada tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi batu.
Ibnu Hajar Mendapat hikmah besar dari kejadian itu. Ia merenung dan memikirkan perihal air hujan yang sangat lembut dan Kecil mampu melubangi batu yang sangat keras.
Dia lalu kembali dan mendiskusikan hal tersebut kepada sang guru. Dia dinasehati, air saja yang cuma menetes dan ingin patuh kepada ketentuan Allah Ta’ala bisa menjadikan yang keras berlubang.
Baca juga: Shalat Boleh Dibatalkan untuk 3 Momen Ini Demi KeselamatanGuru itu lalu membacakan beberapa ayat tentang takwa. Salah satu ayat disampaikan yakni Surah Al-Baqarah ayat 282. “Dan bertawakal-lah kepada Allah, Allah akan mengajarimu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Seketika Ibnu Hajar pun tersadar. Betapa pun kerasnya suatu benda jika diasah secara terus-menerus dan konsisten maka akan menjadi lunak. Batu yang keras bisa berlubang hanya karena ditetesi air secara terus-menerus.
“Jadi Kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin, dan Sabar,” ucap UAH.
Sejak saat itu, semangatnya kembali tumbuh. Perubahan drastis terjadi pada diri beliau, yang menjadi murid yang cerdas dan tumbuh menjadi seorang ulama tersohor.
Dia memiliki banyak karangan kitab-kitab yang terkenal hingga sekarang seperti
Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari,
Bulughul Maram min Adillat Al Ahkam, al Ishabah fi Tamyiz Ash Shahabah, Tahdzib at Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr, dan lain-lain.
(jqf)