LANGIT7.ID, Jakarta - Istilah
flexing baru-baru ini muncul, sama halnya seperti sultan dan
crazy rich. Kata ini ditujukan kepada seseorang yang memiliki kekayaan di atas rata-rata.
Mentor bisnis, Jaya Setiabudi menyebutkan, flexing menjadi kosa kata baru yang telah memakan banyak korban. Dari situ, terdapat akar permasalahan, sehingga perlu pengendalian secara tepat.
Flexing sendiri berarti menujukkan suatu kekayaan dengan cara mencolok atau dikenal juga pamer. Tujuannya untuk menunjukkan status dan posisi sosial seseorang.
Baca Juga: Marak Pamer Kekayaan Sultan dan Crazy Rich, Profesor Ini Angkat Bicara"Ada dua potensi kehidupan pada manusia, yang pertama kebutuhan jasmani. Kedua adalah naluri," kata dia dikanal YouTube-nya Jaya Setiabudi, dikutip Selasa (8/3/2022).
Pria yang akrab disapa Mas J ini menjelaskan, stimulus kebutuhan jasmani berasal dari dalam tubuh sendiri. Di mana menuntut pemenuhan yang jika tidak terpenuhi akan menyebabkan kematian, seperti makan, minum, buang air, ataupun bernafas, dan yang lainnya.
Sementara naluri, stimulusnya berasal dari luar, yang jika tidak dipenuhi maka tidak pula menyebabkan kematian, melainkan keresahan.
"Ada tiga naluri terbesar manusia, salah satunya naluri menuhankan. Kedua adalah naluri seksual. Ketiga adalah naluri eksistensi diri," jelasnya.
Pendiri Yukbisnis.com ini mengatakan, perasaan ingin dihargai dianggap sukses adalah kebutuhan naluri manusia. Stimulusnya dari luar, seperti pujian, kepemilikan, kekuasaan, bahkan cacian, hinaan, dan diremehkan juga merupakan stimulus naluri ekstensi diri.
Menemukan makna sukses, tak lepas dari kebutuhan naluri, terutama naluri eksistensi diri. Bisa jadi, kata dia, seseorang yang fondasi agamanya lemah memahami makna sukses dari unsur materi, hingga terjebak ke paham materialisme.
"Stimulusnya dengan melihat, mendengar bahkan mungkin merasakan kepemilikan harta, jabatan, popularitas dan, kemewahan dunia lainnya. Tentu hal itu tak lepas dari stigma lingkungan sekitar dan mayoritas manusia saat ini, bahwa sukses itu ia kepemilikan duniawi atau materi," ujarnya.
Dia menambahkan, ideologi bukan hanya dibentuk dari proses berpikir internal saja, tapi juga sangat bisa dipengaruhi oleh lingkungan atau eksternal. Seseorang yang berkawan dengan kelompok yang bergaya hidup glamor, akan memiliki kecenderungan glamor akibat stimulus dari luar.
"Maka penilaian orang sekitar akan mempengaruhi eksistensi dirinya, kecuali dia punya falsafah hidup dan keimanan yang kuat dan tidak tergoyahkan," katanya.
(bal)