LANGIT7.ID - , Jakarta - Media memiliki dampak yang kuat terhadap persepsi dan ide-ide tentang peran gender di dalam masyarakat. Hal tersebut disampaikan Co-Founder and Editor in Chief of Magdalene, Devi Asmarini dalam acara daring, Kamis (17/3/2022).
"Sayangnya, media masih mengekalkan dan menguatkan ketidaksetaraan gender lewat representasi yang buruk atau representasi yang kurang,"ujar Devi dalam acara daring, Kamis (17/3/2022).
Menurut dia, banyak sekali riset-riset yang menunjukkan dampak-dampaknya, misal seseorang mendapatkan eksposure terhadap media-media yang memberi stereotip gender terhadap peran-peran tertentu.
Baca juga: Riset WEF: Butuh 100 Tahun untuk Ciptakan Kesetaraan Gender"Itu juga akan berpengaruh dengan preferensi mereka. Misal tentang konten-konten media sesuai gender yang hanya khusus untuk gender tertentu atau aktivitas tertentu. Dan juga berpengaruh dengan persepsi mereka terhadap peran gender yang lebih tradisional," katanya.
Jika dilihat, lanjut Devi, yang terjadi di dunia saat ini memang masih sangat kurang. Hasil survey beberapa tahun lalu menyebutkan hanya 24 persen perempuan yang menjadi narasumber. Baik itu wawancara melalui koran, televisi atau internet.
"Padahal kita tahu bersama bahwa perempuan sudah menempati berbagai posisi di dunia ini. Lalu, 46 persen berita di dunia itu menerapkan kembali stereotip gender dan hanya 4 persen yang mengubahnya," ungkapnya.
Di Indonesia, lanjut Devi, kondisi tersebut sempat terlihat dalam survey dari Tempo Insitute. Hasil survey itu menunjukkan hanya 17 narasumber perempuan di media berita.
"Kebanyakan mereka diwawancarai terkait isu-isu tradisional yang diasosiasikan dengan perempuan, misal seperti lifestyle, kesehatan, atau pendidikan dan lainnya," lanjut Devi.
Selain di ranah media massa, film pun juga bermasalah. Survei yang setiap tahun dilakukan untuk film-film Hollywood menunjukkan ada penurunan dari sisi karakter perempuan yang berbicara, jadi wajahnya lebih banyak tetapi porsi bicaranya lebih sedikit.
Baca juga: MOFA dan LSM Taiwan Gelar "Pekan Kesetaraan Gender Taiwan""Artinya perempuan direduksi sebagai sebuah fisikalitas, ketubuhannya saja yang dipotret," tuturnya.
"Padahal media sebenarnya bisa sangat transformatif untuk mencapai kesetaraan gender di masyarakat. Dengan cara memberikan konten-konten gender sensitif, gender transformatif yang mematahkan stereotip gender dan juga menentang norma-norma sosial budaya yang mempersepsikan gender lewat kacamata yang masih sangat tradisional," pungkas Devi.
(est)