LANGIT7.ID, Jakarta - KH Mustofa Bisri (Gus Mus) menilai pondok pesantren merupakan sistem pendidikan terbaik Tanah Air yang merupakan Warisan para ulama-ulama Nusantara. Sistem pesantren berbeda dengan lembaga pendidikan lain.
Hal itu didasarkan pada perbedaan mencolok niat para pengajar. Jika di pesantren berangkat dari Jiat investasi akhirat, lembaga pengajaran lain didasarkan pada etos kerja.
Dari sisi akademik, pesantren menggabungkan antara
ta’lim dengan
tarbiyah. Pesantren memadukan dua sistem tersebut. Pesantren tidak hanya fokus pada pengajaran saja, tapi juga melibatkan pendidikan.
Baca juga: Pondok Pesantren Penjaga Masa Depan Generasi Anak BangsaPendidikan dan pengajaran dual hal yang berbeda. Pengajaran hanya pemberian informasi atau transfer ilmu dari guru ke murid. Dalam bahasa Arab disebut ta’lim. Sedangkan, pendidikan merupakan rangkaian kegiatan yang mendidik karakter baik atau disebut tarbiyah.
“Banyak sekolah yang hanya menjalankan ta’lim, tapi lupa pada tarbiyah,” kata Gus Mus, dikutip laman resmi Pondok
Pesantren Tebuireng, Sabtu (19/3/2022).
Beliau menjelaskan, murid yang hanya diajarkan tapi tidak ada muatan pendidikan hanya pintar saja. Namun, ia tidak memiliki sikap jujur, bertanggung jawab, dan amanah.
Hal ini seperti komputer yang bisa menyimpan banyak data dan file, tapi tak punya sopan santun. Pemilik komputer duduk di bawah, tapi dia duduk di atas meja. Itu sebuah analogi jika murid hanya fokus ke ta’lim saja, dan tidak masuk ke ranah tarbiyah.
“Saya dinasehati oleh ayah saya bernama KH Bisri Mustofa, seandainya mendidik santri, jangan hanya usaha dzahir saja, tapi juga batinan,” kata Gus Mus.
Pendidikan dzahir yakni proses mengajarkan langsung antara guru dan murid. Sementara, usaha batin meliputi doa, rasa ikhlas mengajar, dan sabar. Usaha batin dan dzahir keduanya saling menguatkan.
“Di sekolah umum mulai tingkat Sekolah Dasar hingga bangku kuliah jarang sekali ada pendidikan. Adanya hanya ta’lim. Hanya di taman kanak-kanak masih konsisten memberikan pendidikan karakter,” ujar Gus Mus.
Baca juga: Kemenag Buka 600 Kuota Beasiswa S1-S2 untuk SantriDi pondok pesantren, kiai selalu mendoakan para santrinya. Dia menceritakan satu kisah tentang seorang kiai yang meminta nama-nama santri yang nakal. Sang kiai tak ingin menghukum, namun namanya sengaja dicatat agar mudah menyebut nama mereka dalam doa.
“Nama-nama tersebut dikirimi doa terus terutama saat malam hari oleh sang kiai. Model kayak gini hanya ada di pesantren,” kata Gus Mus.
Hasil dari usaha batin dan dzahir ini membuat banyak santri sukses dan bermanfaat di masyarakat. Bahkan kerap terjadi hal-hal tak terduga jika para santri itu sudah menyelesaikan pendidikan di pesantren.
“Di sebuah pesantren ada tawaran dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ke santri. Dari 11 santri, sebanyak 10 orang lolos. Padahal pelajarannya umum. Panitia heran dan sampai rapat. Ini berkat sowan dan doa kiai,” tutur Gus Mus.
(jqf)