LANGIT7.ID, Jakarta -
Umat Islam di Indonesia bisa maju bila potensi zakat dimaksimalkan. Mereka yang awalnya mustahik akan menjadi muzzaki bila dana yang ada itu bisa untuk pemberdayaan.
Potensi
zakat umat Islam di Tanah Air mencapai Rp300 triliun lebih. Namun realisasinya baru sekitar Rp11 triliun. Penyebabnya karena minimnya literasi masyarakat mengenai zakat.
Adalah Novi Wardi, Direktur
Baitulmaal Muamalat yang bercita-cita memajukan umat Islam dari kalangan fakir miskin ini ke depannya menjadi wajib zakt.
Baca Juga: Baitulmaal Muamalat Targetkan Penerima Zakat Naik StatusSebab dia menilai keuangan sosial Islam, termasuk zakat, infaq, sedekah, dan wakaf (ziswaf) terbukti ampuh mengatasi krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19.
![Sosok Novi Wardi, Bercita-cita Majukan Umat lewat Zakat]()
Kementerian Keuangan pun meyakini keuangan syariah merupakan salah satu instrumen penting dalam mendukung program pemulihan ekonomi. Salah satunya lewat pemberdayaan masyarakat.
"Kami ingin membantu orang semaksimal mungkin, karena sebaik-baiknya orang adalah yang bisa bermanfaat untuk orang lain," ujarnya saat wawancara khusus dengan Langit7, Sabtu (19/3/2022).
Pria kelahiran Bukittinggi ini menyebut, berbagai upaya yang dilakukan melalui program di BMM, bertujuan untuk memberikan kontribusi dalam mendorong kesejahteraan masyarakat.
Bahkan, di tengah tantangan puncak pandemi beberapa waktu lalu, dia juga turun langsung untuk menghimpun dana ziswaf dari masyarakat. Selanjutnya, menyalurkan dana itu ke mereka.
![Sosok Novi Wardi, Bercita-cita Majukan Umat lewat Zakat]()
"Selama pandemi, kami tidak memikirkan soal program pemberdayaan. Prioritas kami memang bantuan untuk mereka yang membutuhkan, sebab kondisi warga saat itu sudah krisis," ujanrya.
Namun dia meyakini di masa sekarang upaya pemberdayaan sudah bisa dilakukan. Dana zakat tak melulu soal bantuan kebutuhan hidup, tapi melihat potensi yang dikembangkan dari warga tersebut.
Jika warga ini sudah punya skill, lalu mereka berkembang. Tidak menutup kemungkinan nantinya mereka menjadi orang yang wajib zakat atau muzzaki, dan angka kemiskinan pun berkurang.
Menurut pria berusia 47 tahun ini, salah satu tantangan paling berat dalam mengelola keuangan syariah dan mewujudkan cita-citanya itu ialah menyatukan frekuensi di internal timnya.
"Satu frenkuensi dengan tim itu penting sekali. Kalau berbeda, susah. Saya juga turun menghimpun dana. Kita cari dana sama-sama, karena kita punya program," ungkapnya.
Muslim yang sedang menyelesaikan disertasinya di UIN Syarif Hidayatullah ini menambahkan, Rencana Kerja Anggaran Tahunan (RKAT) 2022, berikhtiar untuk terus menghadirkan solusi bagi masyarakat lewat penyaluran dana zakat, infak, sedekah dan wakaf (ziswaf).
"Di tengah persaingan eksternal, termasuk karakter muzakki, kami selalu berupaya memberikan kemudahan dengan mengikuti perkembangan zaman. Salah satunya melakukan shifting digital terkait dana ziswaf," ujarnya.
Dia berharap, target dan rencana untuk tahun ini dapat tercapai, baik secara kelembagaan maupun pribadi. Sehingga, BMM mampu hadir sebagai fasilitator untuk para muzakki membantu mustahik.
(bal)