LANGIT7.ID, Jakarta - Pimpinan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, mengatakan, perintah puasa pada bulan suci Ramadhan merupakan penghormatan untuk beriman.
Ramadhan memiliki banyak nama seperti
syahrus shiam,
syahrul Qur'an,
syahrus shabr,
syahrul lailatil qadr,
syahrus shadaqah,
syahru qiyam, dan lain sebagainya. Nama paling terkenal di kalangan umat Islam adalah
syahrus shiam (bulan puasa).
Padahal, kata Kiai Sahal, puasa hanya salah satu maziah Ramadhan. Maka itu, dia mengingatkan agar semua orang Islam mengaktifkan semua nama-nama Ramadhan di setiap hari. Ramadhan hanya datang sekali setahun, maka perlu dimanfaatkan sebaik mungkin.
Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang beriman! Diwajikan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Baca juga: Dibawakan Musisi Tanah Air, Lagu Kembalilah ini Karya Kiai GontorDalam ayat tersebut ada amanat untuk orang beriman. Amanat itu bukan sembarang amanat, karena hanya orang beriman yang mampu memikul amanat tersebut. Amanat itu yakni puasa pada bulan Ramadhan.
“Kalau ada ayat Al-Qur’an yang dimulai dengan
ya ayyuhallazina amanu, itu berarti amanat, dan boleh dikatakan yang tidak beriman pasti keberatan. Sehingga, itu penghormatan bagi orang beriman. Untuk orang yang tidak beriman, puasa itu berat sekali, dan sulit untuk dilaksanakan. Itu penghormatan untuk orang beriman,” kata Kiai Sahal dalam Tarhib Ramadhan bersama JSIT Indonesia secara virtual, Jumat (25/3/2022).
Selain amanat itu, Ramadhan juga menjadi ujian bagi umat manusia. Pada saat Ramadhan tiba, maka umat manusia akan terbagi menjadi dua, yakni orang beriman dan orang musyrik. Orang beriman akan menyambut Ramadhan dengan senang hati. Sementara, orang musyrik akan keberatan dengan ibadah Ramadhan tersebut.
“Jadi,
shiam Ramadhan ini hanya bisa dilaksanakan dan diterima oleh orang beriman,” kata Kiai Sahal.
Dia menjelaskan, perintah puasa merupakan tangga untuk menggapai derajat tinggi. Tidak hanya haji disebut mabrur, tapi puasa juga demikian. Orang beriman harus berusaha menggapai derajat puasa
mabrur.
“Salah satu hal yang harus dicapai pada saat Ramadhan adalah mencapai derajat orang-orang beriman,” ucap Kiai Sahal. Maka itu, Ramadhan harus menjadi momentum memperkuat iman. Puasa bukan sekadar seremonial semata. Harus ada kualitas yang dikejar agar bisa termasuk dalam golongan orang bertakwa.
“Kita membangun shiam di dunia untuk mendapatkan derajat tinggi di akhirat. Bertakwalah,” ucap Kiai Sahal.
Baca juga: Ilmu, Iman, dan Amal dalam Islam tidak Bisa DipisahkanSelain itu, puasa merupakan ujian bagi umat Islam, yang harus diterima dengan ikhas. Orang tidak akan naik tingkat jika tidak mendaptkan ujian. Untuk melalui ujian itu, Rasulullah SAW sudah mengajarkan pilar-pilar kehidupan dalam sebuah hadits saat menjawab pertanyaan Jibril.
Pilar-pilar kehidupan itu adalah iman, Islam, dan ihsan. Itu merupakan pilar kehidupan. Pilar yang akan mengawali, mendasari, dan menjaga pilar kebangsaan, pilar kemanusiaan, dan pilar kemasyarakatan. Dengan begitu, umat Islam akan menyebarkan
rahmatan lil-alamin di seluruh alam semesta.
“Sehingga, Ramadhan ini perlu diaktifkan ke dalam diri kita dan keluarga, bukan untuk bergaya-gaya. Hati harus berpuasa. Pasang spanduk ke dalam diri kita masing-masing, tanamkan itu. Maka, di Ramadhan ini, kita kuatkan diri kita ke dalam benar-benar, kuatkan keimanan,” kata Kiai Sahal.
(jqf)