LANGIT7.ID, Jakarta - Syaikh Muhammad Al-Ghazali, dalam kitab
Mi'ah Su'al 'an Al-Islam mengatakan, Islam merupakan agama pelopor hak asasi manusia. Sejak awal, Allah menciptakan manusia untuk dimuliakan.
Bahkan, jika manusia beriman kepada Allah denga mengerjakan banyak kebaikan, ia bisa lebih mulia dari malaikat. Itu termaktub dalam Surah Al-Bayyinah ayat 7. Dalam ayat itu, Allah Ta'ala berfirman:
"Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik mahluk." (QS. Al-Bayyinah: 7).
Baca juga: Sambut Resolusi PBB, Syarikat Islam Akan Bentuk Gugus Tugas Anti IslamophobiaNamun, dalam sejarah peradaban manusia, kerap ditemui sekelompok orang yang hidup dalam keadaan sengsara karena hak-hak mereka dirampas. Mereka hidup dengan ketidakjelasan.
Lalu, siapa yang membuat kelompok itu sengsara? bukan makhluk lain yang ada di muka bumi, tapi manusia itu sendiri. Banyak manusia ketika mendapat kekuasaan tega menindas manusia lain menggunakan kekuasaan tersebut.
Di dalam Islam, hak asasi manusia lahir seiring dengan kalimat tauhid. Manusia dilahirkan secara bebas merdeka. Setiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama.
Hal tersebut pernah disampakan Umar bin Al-Khattab, sebuah perkataan yang keluar secara improvisasi, tanpa persiapan, dan tanpa paksaan. Sebuah kalimat yang tidak keluar melainkan keluar dari fitrah Islamiyyah. Namun sayang, karena perilaku manusia seiring berjalannya waktu, kalimat ini seperti hanya sebuah fantasi.
Baca juga: Islam Larang Zalimi Buruh, Berikut Haknya yang Harus DipenuhiAbu Bakar As-Shiddiq dalam pidatonya mngatakan, “Sungguh kita telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, bahwa jika banyak orang melihat kezaliman, namun mereka tidak bergerak untuk melawannya, maka Allah akan jatuhkan hukuman umum (hukuman merata kepada semua manusia)."
Dalam tatanan masyarakat, setiap orang memiliki hak-hak poitik untuk mengoreksi dan mengritik para pemimpin. Itu bisa dilakukan tanpa merasa takut dan mengalami bahaya.
(jqf)